Tugas
PRAMUKA
PBB &
UPACARA
Nama : 1. Diana Anggi A
2. Novi
Istianah A
3. Nur
Izatur R
Kelas : XI.5
SMA Negeri 01 Bumiayu
Jl.P Diponegoro no.02 Bumiayu 52273
Baris-berbaris adalah suatu wujud latihan fisik yang diperlukan untuk
menanamkan kebiasaan dalam tatacara kehidupan pandu yang diarahkan pada
terbentuknya suatu perwatakan tertentu.Aba-aba terdiri dari 3 bagian dengan
urutan:
- aba-aba petunjuk
- aba-aba peringatan
- aba-aba pelaksanaan
Contoh:
1) Untuk
perhatian, istirahat ditempat … GERAK
2) Untuk
istirahat, bubar … JALAN
3) Jika aba-aba
ditujukan khusus terhadap salahsatu bagian dari seluruh pasukan: Regu 2,
siap … GERAK
4) Sebagai
pengetahuan –didalam upacara, aba-aba petunjuk pada penyampaian penghormatan
terhadap seseorang cukup menyebutkan jabatan orang yang diberi hormat itu
saja tanpa menyebutkan eselon satuan yang lebih tinggi.
Contoh: Kepada Kepala Staf
Angkatan Darat, hormat … GERAK
Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat
dilaksanaklan tanpa ragu-ragu.
Contoh:
1) Lencang kanan …
GERAK
2) Istirahat di
tempat … GERAK
Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan
aba-aba petunjuk/peringatan dengan cara serentak atau berturut-turut.
Aba-aba pelaksanakan yang digunakan adalah
a) GERAK
Adalah untuk gerakan-gerakan tanpa
meninggalkan tempat yang menggunakan kaki dan gerakan-gerakan yang menggunakan
anggota tubuh lain, baik dalam keadaan jalan maupun berhenti.
Contoh:
1) Jalan ditempat …
GERAK
2) Siap … GERAK
3) Hadap kanan …
GERAK
4) Hormat kanan …
GERAK
5) Pundak kiri
senjata … GERAK (sedang berjalan dari sandang senjata)
6) Hormat … GERAK
b) JALAN
Adalah untuk gerakan-gerakan kaki yang
dilakukan dengan meninggalkan tempat.
Contoh:
1) Haluan kanan/kiri
… JALAN
2) Dua langkah ke
depan … JALAN
3) Tiga langkah ke
kanan … JALAN
4) Satu langkah ke
belakang … JALAN
Catatan:
Bila gerakan meninggalkan tempat
tersebut tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba pelaksanaan harus didahului dengan
aba-aba peringatan: Maju …
Contoh:
1) Maju … JALAN
2) Haluan
kanan/kiri maju … JALAN
3) Hadap kanan/kiri
maju … JALAN
4) Melintang
kanan/kiri maju … JALAN
c) MULAI
Adalah untuk dipakai pada pelaksanaan
perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
Contoh:
1) Hitung … MULAI
2) Berbanjar/bersaf
kumpul … MULAI
Cara memberi aba-aba:
a. Pada waktu
memberi aba-aba, pemberi aba-aba pada dasarnya harus berdiri dalam sikap
sempurna dan menghadap pasukan.
b. Apabila aba-aba
yang diberikan itu berlaku pula untuk si pemberi aba-aba, maka pada saat
memberi aba-aba tidak menghadap pasukan.
Contoh:
Saat Komandan Upacara (Dan Up)
mengistirahatkan pasukan untuk menerima amanat dari Inspektur Upacara (Irup):
Untuk amanat, istirahat ditempat … GERAK
c. Dalam
rangka menyiapkan pasukan pada saat Irup memasuki lapangan upacara dan setelah
amanat Irup selesai , Dan Up tidak menghadap pasukan.
d. Pada taraf
permulaan latihan , aba-aba yang ditujukan kepada pasukan yang sedang bergerak
(berjalan/berlari), aba-aba pelaksanaannya harus selalu bertepatan dengan
jatuhnya salahsatu kaki tertentu yang pelaksanaan geraknya dilakukan dengan
tambahan : satu langkah pada waktu berjalan atau tiga langkah pada waktu
berlari.
Pada taraf lanjutan, aba-aba pelaksanaan
dapat diberikan bertepatan dengan jatuhnya kaki yang berlawanan yang
pelaksanaan gerakannya dilakukan dengan tambahan dua langkah pada waktu
berjalan atau empat langkah pada waktu berlari, kemudian berhenti atau maju
dengan mengubah bentuk dan arah pada pasukan.
e. Semua aba-aba
diucapkan dengan suara nyaring, tegas dan bersemangat
f. Pemberian
aba-aba petunjuk yang dirangkaikan dengan aba-aba peringatan dan pelaksanaan,
pengucapannya tidak diberi nada.
g. Pemberian
aba-aba peringatan wajib diberi nada pada suku kata pertama dan terakhir. Nada
suku kata terakhir diucapkan lebih panjang menurut besar kecilnya pasukan.
Aba-aba pelaksanaan senantiasa diucapkan deengan cara yang di“hentakkan”.
h. Waktu antara
aba-aba peringatan dengan aba-aba pelaksanaan diperpanjang sesuai dengan besar
kecilnya pasukan dan atau tingkatan perhatian pasukan (konsentrasi
perhatian). Dilarang memberikan keterangan-keterangan lain di sela-sela aba-aba
pelaksanaan.
i. Bila
ada suatu bagian aba-aba yang diperlukan pembetulan, maka dikeluarkan perintah
“ulangi”.
Contoh:
Dua langkah ke kanan … Ulangi … Satu
langkah ke kanan … JALAN
j. Gerakan
yang tidak termasuk aba-aba tetapi yang harus dijalankan pula, dapat diberikan
petunjuk-petunjuk dengan suara yang nyaring, tegas dan bersemangat.
Biasanya dipakai pada waktu di lapangan,
misal: MAJU, IKUT, BERHENTI, LURUSKAN, LURUS.
CARA MELATIH BERHIMPUN
Bila seorang pelatih/komandan ingin mengumpulkan anggota pasukannya secara
bebas, maka ia memberikan aba-aba: Berhimpun … MULAI. Semua anggota datang di
depan pemberi aba-aba dengan berdiri bebas dengan jarak tiga langkah.
Pelaksanaan
a) Pada waktu
aba-aba peringatan, seluruh anggota mengambil sikap sempurna dan menghadap
kepada yang memberi aba-aba.
b) Pada aba-aba
pelaksanaan seluruh anggota mengambil sikap untuk lari selanjutnya lari menuju
di depan pemberi aba-aba dengan jarak tiga langkah..
c) Pada waktu
datang di depan pemberi aba-aba mengambil sikap sempurna kemudian mengambil
sikap istirahat.
d) Setelah aba-aba
“SELESAI”, seluiruh anggota mengambil sikap sempurna, balik kanan dan
selanjutnya menuju tempat masing-masing.
e) Pada saat datang
didepan pemberi aba-aba serta kembalinya, tidak menyampaikan penghormatan.
f) Bila
bersenjata, pada aba-aba peringatan seluruh anggota mengambil sikap
sempurna dan pada saat aba-aba pelaksanaan terlebih dahulu melakukan
depan senjata selanjutnya lari menuju ke depan pemberi aba-aba.
CARA MELATIH BERKUMPUL
Pada dasarnya berkumpul selalu dilakukan dengan bersaf, kecuali jika
keadaan ruang tidak memungkinkan.
Aba-aba: “Bersaf, kumpul … MULAI!”
Pelaksanaan:
a) Komandan/pelatih
menunjuk seorang anggota unttuk berdiri kurang lebih 4 langkah didepannya,
sebagai penjuru. Perintahnya sebagai berikut, misal: “Thalib ‘Izzuddin sebagai
penjuru!” (Thalib = panggilan untuk anggota Pandu SIT putera, bernama
‘Izzuddin).
b) Anggota yang
ditunjuk sebagai penjuru mengambil sikap sempurna dan menghadap penuh kepada
pemberi perintah, selanjutnya mengulangi perintah sbb: “Siap, Thalib “Izzuddin
sebagai penjuru”.
c) Penjuru
mengambil sikap untuk berlari kemudian berlari menuju pemberi perintah. Apabila
bersenjata, mengambil sikap depan senjata kemudian berlari menuju pemberi
perintah, langsung pundak kiri senjata.
d) Pada waktu
aba-aba bersaf/ berbanjar kumpul, maka seluruh anggota lainnya mengambil sikap
sempurna dan menghadap penuh pada pemberi aba-aba.
e) Pada aba-aba
pelaksanaan: “MULAI”, anggota lainnya dengan serentak mengambil sikap lari dan
berlari menuju disamping kiri/belakang penjuru secara berturut-turut.
Selanjutnya penjuru memberi isyarat: “LURUSKAN”, anggota secara berturut-turut
meluruskan diri.
f) Cara
meluruskan diri ke samping (jika bersaf) sbb: Meluruskan lengan kanan ke
samping kanan dengan tangan digenggam disentuhkan bahu kiri orang di sebelah
kanannya, punggung tangan menghadap ke atas. Kepala dipalingkan ke kanan dan
meluruskan diri, hingga dapat melihat dada orang-orang di sebelah kanannya.
Penjuru yang ditunjuk pada waktu berkumpul melihat ke kiri, setelah barisan
terlihat lurus maka penjuru memberikan isyarat dengan mengucapkan: “LURUS”,
lengan diturunkan serempak sambil mengembalikan pandangan ke arah depan. Bila
bersenjata, maka senjata dari pundak kiri ditegakkan secara serempak
g) Cara meluruskan
diri ke depan (jika berbanjar) sbb: Meluruskan lengan kanannya ke depan dengan
tangan digenggam, punggung tangan menghadap ke atas dan mengambil jarak satu lengan
ditambah dua kepal dari orang yang ada di depannya serta meluruskan diri ke
depan. Setelah orang yang paling belakang/banjar kanan yang paling belakang
melihat barisannya sudah lurus maka ia memberikan isyarat dengan mengucapkan:
“LURUS”. Pada isyarat ini serentak menurunkan lengan kanan dan kembali ke sikap
sempurna.
h) Apabila
bersenjata, maka setelah menegakkan tangan kanannya kemudian dengan serentak
tegak senjata.
Catatan: bila lebih dari 9 orang selalu
berkumpul dalam bersaf tiga atau berbanjar tiga. Kalau kurang dari 9 orang
menjadi bersaf/berbanjar satu. Meluruskan ke depan hanya digunakan dalam bentuk
berbanjar
i) Penunjukkan
penjuru tidak berdasarkan kepangkatan.
MELATIH MENINGGALKAN BARISAN
Apabila pelatih/komandan memberikan perintah kepada seseorang dari
barisannya, terlebih dahulu ia memanggil orang itu keluar barisan dan
memberikan perintahnya setelah orang itu dalam telah berdiri keadaan sikap
sempurna. Orang yang menerima perintah ini harus mengulangi perintah tersebut
sebelum melaksanakan perintah itu dengan semangat.
Tata cara keluar barisan:
a. Bila pasukan
bersaf
1) Untuk saf depan,
tidak perlu balik kanan tetapi langsung menuju ke arah yang memanggil.
2) Untuk saf tengah
dan belakang, balik kanan kemudian melalui belakang saf paling belakang,
selanjutnya memilih jalan terdekat menuju arah pemanggil.
3) Untuk orang yang
berada di ujung kanan atau kiri tanpa balik kanan langsung menuju arah yang
memanggil (termasuk saf tengah: 2, 3, …).
b. Bila pasukan
berbanjar
1) Untuk saf depan,
tidak perlu balik kanan tetapi langsung menuju ke arah yang memanggil.
2) Untuk saf
dibelakang saf pertama, untuk banjar tengah setelah balik kanan kemudian
melalui belakang safnya sendiri, selanjutnya memilih jalan terdekat menuju arah
pemanggil. Untuk banjar kanan/kiri tanpa balik kanan terus memilih jalan yang
terdekat menuju arah yang memanggil.
Cara menyampaikan laporan apabila anggota pasukan dipanggil
ketika sedang dalam barisan:
1) Pelatih/komandan
memanggil seorang anggotanya yang bernama Qisthi: “Tholibah Qisthi tampil ke
depan !”. Kemudian Tholibah Qisthi menjawab dalam posisi sikap sempurna: “Siap,
tholibah Qisthi tampil ke depan”, kemudian keluar barisan dengan tatacara
keluar barisan dan menghadap 4-6 langkah didepan pemanggil.
2) Kemudian
mengucapkan: “Lapor, siap menghadap”. Selanjutnya menunggu perintah.
3) Setelah menerima
perintah/petunjuk, ia mengulangi perintah tersebut.
Contoh
: “Berikan aba-aba di tempat!”
Mengulangi :
”Berikan aba-aba di tempat”.
Selanjutnya melaksanakan perintah yang
diberikan oleh pemanggil, yaitu memberikan aba-aba ditempat.
4) Setelah selesai
melaksanakan perintah/petunjuk kemudian menghadap 4-6 langkah di depan pemberi
perintah/yang memanggil dan mengucapkan: “Memberikan aba-aba ditempat telah
dilaksanakan , laporan selesai”.
5) Setelah mendapat
perintah: “Kembali ke tempat!”, anggota tersebut mengulangi perintah kemudian
balik kanan dan kembali ke tempat.
Bila waktu dalam barisan ada salah seorang anggota yang akan meninggalkan
barisan, terlebih dulu ia mengambil sikap sempurna kemudian mengangkat lengan
kiri ke atas dengan jari-jari terbuka rapat.
Contoh: seorang anggota mengangkat tangan,
Pelatih/komandan bertanya : “Ada apa?”
Anggota
menjawab
: “Ke belakang”
Pelatih/komandanmemutuskan: “Baik, lima menit kembali!”
Anggota tsb mengulangi :
“Lima menit kembali”
Setelah mendapat ijin, ia keluar dari barisan, selanjutnya menuju tempat
sesuai keperluannya. Bila keperluannya selesai, maka ia menghadap
pelatih/komandannya dan melapor sbb: “Lapor, ke belakang selesai, laporan
selesai”. Setelah ada perintah: “Masuk barisan!”, maka ia mengulangi perintah:
“Masuk barisan”, kemudian balik kanan dan kembali masuk barisan pada posisinya
semula.
Aba-aba: “Siap GERAK”
Pelaksanaan: badan /tubuh berdiri tegap, kedua tumit rapat, kedua kaki
membentuk sudut 45°, lutut lurus dan paha dirapatkan. Berat badan tertumpu pada
dua kaki, perut sedikit ditarik, dada dibusungkan, pundak sedikit ditarik ke
belakang, tidak dinaikkan. Kedua lengan rapat pada badan, pergelangan tangan
lurus, jari-jari tangan menggenggam rileks, rapat pada samping luar paha,
punggung ibu jari menghadap ke depan , mulut ditutup, pandangan lurus mendatar
ke depan, nafas sewajarnya.
ISTIRAHAT
Aba-aba: “Istirahat, di tempat … GERAK
Pelaksanaan: kaki kiri dipindahkan ke samping kiri sepanjang telapak kaki
(+ 30 cm). Kedua lengan dibawa ke belakang dibawah pinggang, punggung tangan
kanan diatas telapak tangan kiri. Tangan kanan mengepal lemas, tangan kiri memegang
pergelangan tangan kanan di antara ibu jari dan telunjuk. Lengan rileks, badan
dapat bergerak.
Catatan:
a) Dalam keadaan
parade, yang memerlukan pemusatan pikiran dan kerapihan, istirahat dilakukan
atas aba-aba: “Parade, istirahat di tempat … GERAK!”. Pelaksanaan sama dengan
tersebut diatas, hanya saja tangan ditarik sedikit ke atas (di pinggang), tidak
boleh bergerak dan berbicara, pandangan tetap lurus ke depan.
b) Dalam keadaan
parade atau tidak, bila akan diberikan amanat oleh seseorang (Irup) maka
istiraha dilakukan atas aba-aba: ”Untuk perhatian, istirahat di tempat …
GERAK!”. Pandangan ditujukan kepada pemberi perhatian/amanat.
c) Jika dalam
keadaan ‘istirahat di tempat’ yang tidak didahului aba-aba petunjuk
‘parade’/’untuk perhatian’, diberikan amanat oleh seseorang: pada waktu
diucapkan kata-kata pertama dari amanat, maka pasukan secara serentak mengambil
sikap sempurna, kemudian kembali ke sikap istirahat di tempat.
PERIKSA KERAPIHAN
Aba-aba: “Periksa kerapihan … MULAI
Periksa kerapihan dimaksudkan untuk merapihkan perlengkapan yang dipakai
anggota masing-masing pada saat itu dan pasukan dalam keadaan istirahat.
Pelaksanaan:
a. Tanpa senjata
1) Pada aba-aba
peringatan, pasukan serentak mengambil sikap sempurna.
2) Pada saat
aba-aba pelaksanaan, dengan serentak membungkukkan badan masing-masing, mulai
memeriksa/membetulkan perlengkapan masing-masing dari bawah/ujung kaki sampai
dengan tutup kepala.
3) Setelah yakin
sudah rapih, masing-masing anggota mengambil sikap sempurna.
4) Setelah
pelatih/komandan melihat semua anggota sudah selesai (keadaan sikap sempurna),
maka ia memberikan aba-aba: “SELESAI!”.
5) Pasukan dengan
serentak mengambil sikap istirahat.
b. Dengan senjata
1) Pada aba-aba
peringatan, pasukan serentak mengambil sikap sempurna.
2) Pada saat
aba-aba pelaksanaan, dengan serentak membungkukkan badan, kedudukan senjata
tetap tegak dan dikempit antara lengan atas dengan badan. Masing-masing mulai
memeriksa/membetulkan perlengkapan masing-masing dari bawah/ujung kaki sampai
dengan tutup kepala. Pada saat badan mulai tegak, senjata dipegang tangan
kanan, tangan kiri melanjutkan memeriksa perlengkapan sampai tutup kepala.
3) Setelah yakin
sudah rapih, masing-masing anggota mengambil sikap sempurna.
4) Setelah
pelatih/komandan melihat semua anggota sudah selesai (keadaan sikap sempurna),
maka ia memberikan aba-aba: “SELESAI!”.
5) Pasukan dengan
serentak mengambil sikap istirahat.
LENCANG KANAN/KIRI
Dilakukan hanya dalam bentuk bersaf, aba-aba: “Lencang kanan/kiri … GERAK!”
Pelaksanaan: gerakan ini dilaksanakan dalam sikap sempurna. Pada aba-aba
pelaksanaan semua mengangkat lengan kanan/kiri ke samping kanan/kiri, jari-jari
menggenggam disentuhkan bahu kiri/kanan orang di sebelah kanan/kirinya,
punggung tangan menghadap ke atas. Kepala dipalingkan ke kanan/kiri dan
meluruskan diri, kecuali penjuru kanan/kiri (tetap menghadap ke depan, sikap
sempurna), hingga dapat melihat dada orang-orang di sebelah kanan/kirinya.
(Acuan kelurusan adalah tumit sepatu, bukan ujung. Pelatih/komandan dapat
memberikan acuan kelurusan dari samping barisan).
Catatan: kalau lebih dari satu saf, maka bagi mereka yang tidak berada di
saf depan, kecuali penjuru, setelah meluruskan ke depan dengan pandangan mata,
ikut pula memalingkan muka ke samping dengan tidak mengangkat lengan. Penjuru
pada saf bukan paling depan mengambil antara ke depan dan setelah lurus
menurunkan lengan. Setelah masing-masing dirinya berdiri lurus dalam barisan,
maka semua berdiri di tempatnya dengan memalingkan muka ke arah penjuru.
Pada aba-aba: “Tegak …GERAK!”, semua anggota menurunkan lengan dengan
serempak sambil mengembalikan pandangan ke arah depan, sikap sempurna. Bila
bersenjata, maka senjata dari pundak kiri/kanan ditegakkan secara serempak
SETENGAH LENGAN LENCANG KANAN/KIRI
Aba-aba: “Setengah lengan, lencang kanan/kiri … GERAK!”.
Pelaksanaan: seperti lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di
pinggang dengan siku menyentuh lengan orang di sebelah kanan/kirinya,
pergelangan tangan lurus, ibu jari di sebelah belakang, keempat jari lainnya
rapat di sebelah depan.
LENCANG DEPAN
Hanya dalam bentuk berbanjar, aba-aba: “Lencang depan … GERAK!”.
Pelaksanaan: penjuru tetap sikap sempurna, orang ke-dua dan seterusnya
meluruskan ke depan dengan mengangkat lengan. Bila lebih dari satu banjar, maka
saf terdepan mengambil antara satu/setengah lengan di samping kanan, setelah
lurus menurunkan lengan serta menegakkan kepala kembali dengan serempak.
Anggota-anggota di banjar tengah dan kiri melakukan tanpa mengangkat lengan.
CARA BERHITUNG
Aba-aba: “Hitung … MULAI!”.
Pelaksanaan: jika bersaf, maka pada aba-aba peringatanpenjuru tetap melihat
ke depan sedangkan anggota lainnya pada saf depan memalingkan muka ke kanan.
Pada aba-aba pelaksanaan, berturut-turut tiap anggota mulai dari penjuru kanan
menyebut nomornya sambil memalingkan muka kembali ke depan. Jika berbanjar,
pada aba-aba peringatan semua tetap pada sikap sempurna.pada aba-aba
pelaksanaan tiap anggota mulai dari penjuru depan ke belakang menyebut nomornya
masing-masing. Penyebutan nomor diucapkan penuh.
PERUBAHAN ARAH
a. Hadap kanan/kiri
Aba-aba: “Hadap kanan/kiri … GERAK!”.
Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan
melintang didepan kaki kanan/kiri, lekuk kaki kiri/kanan beradadi ujung kaki
kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan. Tumit kaki kanan/kiri
dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°. Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke
kaki kanan/kiri seperti posisi sikap sempurna.
b. Hadap serong
kanan/kiri
Aba-aba: “Hadap serong kanan/kiri …
GERAK!”.
Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan ke
depan sejajar kaki kanan/kiri. Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke
kanan/kiri 45°. Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri seperti posisi
sikap sempurna.
c. Balik
kanan
Aba-aba: “Balik kanan … GERAK!”.
Pelaksanaan: kaki kiri diajukan
melintang (lebih dalam) didepan kaki kanan, berat badan berpindah ke kaki kiri.
Tumit kaki kanan dengan badan diputar ke kanan 180°. Kaki kiri/kanan dirapatkan
kembali ke kaki kanan/kiri seperti posisi sikap sempurna.
MEMBUKA/MENUTUP BARISAN
a. Buka barisan,
aba-aba: “Buka barisan … JALAN!”
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan
banjar kanan dan kiri masing-masing membuat langkah ke samping kanan dan kiri
satu langkah. Banjar tengah tetap di tempat.
b. Tutup barisan,
aba-aba: “Tutup barisan … JALAN!”.
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan
banjar kanan dan kiri masing-masing membuat langkah ke samping kiri dan kanan
satu langkah, kembali ke posisi semula. Banjar tengah tetap di tempat.
BUBAR
Aba-aba: “Bubar …JALAN!”.
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan setiap anggota menyampaikan
penghormatan kepada pelatih/komandan, setelah dibalas kembali ke sikap
sempurna, melakukan gerakan ‘balik kanan’ dan pada hitungan tertentu (dalam
hati) melakukan gerakan seperti langkah pertama dalam gerakan ‘maju … jalan’,
selanjutnya bubar menuju ke tempat masing-masing.
Bila pelatih/komandan menghendaki tidak ada penghormatan, aba-aba didahului
dengan aba-aba-aba petunjuk: “Tanpa penghormatan, bubar … JALAN!”. Pasukan
langsung balik kanan tanpa memberikan penghormatan dahulu, dst.
GERAKAN BERJALAN TANPA SENJATA
PANJANG, TEMPO DAN MACAM LANGKAH
Langkah dapat dibedakan sebagai berikut:
|
Macam
|
Langkah
|
Panjang
|
|
Tempo
|
|
|
1.
|
Langkah
|
Biasa
|
65
|
Cm
|
102
|
per menit
|
|
2.
|
Langkah
|
Tegap
|
65
|
Cm
|
102
|
per menit
|
|
3.
|
Langkah
|
Perlahan
|
40
|
Cm
|
30
|
per menit
|
|
4.
|
Langkah
|
Ke Samping
|
40
|
Cm
|
70
|
per menit
|
|
5.
|
Langkah
|
Ke
Belakang
|
40
|
Cm
|
70
|
per menit
|
|
6.
|
Langkah
|
Ke Depan
|
60
|
Cm
|
70
|
per menit
|
|
7.
|
Langkah
|
Sewaktu
lari
|
80
|
Cm
|
165
|
per menit
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Panjang semua langkah diukur dari tumit ke tumit, bila dalam peraturan di
sebut satu langkah, maka panjangnya 65 cm.
Penyesuaian langkah untuk anak-anak dapat dibedakan sebagai berikut:
|
Macam
|
Langkah
|
Panjang
|
|
Tempo
|
|
|
1.
|
Langkah
|
Biasa
|
40
|
Cm
|
102
|
per menit
|
|
2.
|
Langkah
|
Tegap
|
40
|
Cm
|
102
|
per menit
|
|
3.
|
Langkah
|
Perlahan
|
30
|
Cm
|
30
|
per menit
|
|
4.
|
Langkah
|
Ke Samping
|
30
|
Cm
|
70
|
per menit
|
|
5.
|
Langkah
|
Ke
Belakang
|
30
|
Cm
|
70
|
per menit
|
|
6.
|
Langkah
|
Ke Depan
|
40
|
Cm
|
70
|
per menit
|
|
7.
|
Langkah
|
Sewaktu
lari
|
60
|
Cm
|
165
|
per menit
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Panjang semua langkah diukur dari tumit ke tumit, bila dalam peraturan di
sebut satu langkah, maka panjangnya 40 cm.
MAJU JALAN
Dari sikap sempurna, aba-aba: “Maju … JALAN!”
Pelaksanaan:
a) Pada aba-aba
pelaksanaan, kaki kiri diajukan ke depan, lutut lurus, telapak kaki diangkat
rata sejajar dengan tanah setinggi + 20 cm, kemudian dihentakkan ke tanah
dengan jarak satu langkah, dan selanjutnya berjalan dengan langkah biasa.
b) Langkah pertama
dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°, lengan kiri ke
belakang 30° dengan tangan menggenggam. Pada langkah-langkah selanjutnya lengan
atas dan bawah lurus dilenggangkan ke depan 45° dan ke belakang 30°. Tangan
kanan depan mengambil dua titik yang terletak dalam satu garis sebagai arah
barisan. Seluruh anggota meluruskan barisan ke depan dengan melihat pada
belakang leher. Dilarang berbicara ataupun melihat ke kanan/kiri. Pada waktu
melenggang, lengan tidak kaku.
LANGKAH BIASA
Pada waktu berjalan, kepala dan badan seperti pada sikap sempurna.
Sewaktumengayunkan kaki ke depan, lutut dibengkokkan sedikit, kaki tidak
diseret, kemudian diletakkan ke tanah dengan jarak yang telah ditentukan.
Cara melangkahkan kaki seperti pada waktu berjalan biasa. Pertama tumit
diletakkan di tanah, kemudian seluruh kaki. Lengan dilenggangkan dengan wajar
ke depan 45° dan ke belakang 30°. Jari-jari menggenggam rileks, punggung
ibu jari menghadap ke atas.
Bila berjalan dalam pasukan supaya menggunakan hitungan irama langkah
sebagai kendali kesamaan langkah.
LANGKAH TEGAP
a. Dari sikap
sempurna, aba-aba: “Langkah tegap, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: mulai berjalan dengan kaki
kiri, langkah pertama tidak berlebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan
tanah, lutut lurus, kaki diangkat tidak terlalu tinggi. Bersamaan dengan
langkah pertama, tangan menggenggam, punggung tangan menghadap ke samping luar,
ibu jari tangan menghadap ke atas. Lenggang lengan ke depan 90° dan ke
belakang 30°.
b. Dari langkah
biasa, aba-aba: “Langkah tegap … JALAN!” (tidak ada kata-kata ‘maju”).
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan
diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah kemudian
mulai berjalan langkah tegap.
c. Ketika
sedang berjalan ‘langkah tegap’ kembali ke langkah biasa.
Aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!” (tidak ada kata-kata
‘maju”).
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan sewaktu kaki kiri/kanan jatuh di
tanah ditambah satu langkah, langkah pertama dihentakkan dan mulai berjalan
dengan langkah biasa.
LANGKAH PERLAHAN
Digunakan untuk berkabung, mengantar jenazah dalam upacara kemiliteran.
Aba-aba: “Langkah perlahan, maju … JALAN!”
Pelaksanaan: gerakan dilakukan dengan sikap sempurna. Pada aba-aba ‘JALAN”,
kaki kiri dilangkahkan ke depan, setelah menapak segera disusul dengan kaki
kanan ditarik ke depan dan ditahan sebentar di sebelah mata kaki kiri,
selanjutnya ditapakkan di sebelah depan kaki kiri. Selanjutnya melakukan
gerakan-gerakan seperti semula.
Catatan:
a) Dalam keadaan
berjalan, aba-aba: “Langkah perlahan … JALAN!”, diberikan sewaktu kaki
kiri/kanan jatuh di tanah ditambah satu langkah dan kemudian mulai berjalan
dengan langkah perlahan.
b) Telapak kaki saat
melangkah/menginjak tanah tidak dihentakkan, supaya lebih khidmat.
Untuk berhenti dari langkah perlahan. Aba-aba: “Henti …GERAK!” diberikan
saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah lalu ditambah satu langkah. Selanjutnya
kaki kiri/kanan dirapatkan pada kaki kanan/kiri menurut irama langkah biasa dan
mengambil sikap sempurna.
LANGKAH KE SAMPING
Aba-aba: “1/2/3/4 Langkah ke kanan/kiri … JALAN!”
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan kaki kanan/kiri dilenggangkan ke
samping kanan/kiri sepanjang + 40 cm. Selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan
pada kaki kanan/kiri. Sikap tetap pada sikap sempurna, maksimal dilakukan empat
langkah.
LANGKAH KE BELAKANG
Aba-aba: “1/2/3/4 Langkah ke belakang … JALAN!”
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan, mulai kaki kiri dilangkahkan ke
belakang sepanjang + 40 cm, dilanjutkan dengan kaki kanan sesuai jumlah
yang diperintahkan. Lengan tidak dilenggangkan, sikap badan tetap seperti sikap
sempurna, maksimal dilakukan empat langkah.
LANGKAH KE DEPAN
Aba-aba: “1/2/3/4 Langkah ke depan … JALAN!”
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan, mulai kaki kiri dilangkahkan ke
depan sepanjang + 60 cm, dilanjutkan dengan kaki kanan sesuai
jumlah yang diperintahkan. Gerakan kaki seperti pada ‘langkah tegap’ dan
dihentakkan terus, lengan tidak dilenggangkan, sikap badan tetap seperti sikap
sempurna, maksimal dilakukan empat langkah.
LANGKAH SEWAKTU LARI
a. Dari sikap sempurna,
aba-aba: “Lari, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: pada aba-aba peringatan, kedua tangan dikepalkan lemas dan
diletakkan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap ke luar,
kedua siku sedikit ke belakang, badan agak dicondongkan ke depan. Pada aba-aba
pelaksanaan, dimulai lari dengan menghentakkan kaki kiri satu langkah dan
selanjutnya lari dengan panjang langkah 80 cm, tempo 165 langkah/menit. Kaki
diangkat secukupnya, telapak kaki diletakkan mengenai tanah pada ujungnya
terlebih dahulu, lengan dilenggangkan lemas.
b. Dari langkah biasa,
aba-aba: “Lari … JALAN!”.
Pada aba-aba peringatan, gerakan sama dengan poin a, aba-aba pelaksanaan
diberikan saat kaki kiri/kanan jatuh ke tanah, kemudian ditambah satu langkah,
dst.
c. Kembali ke
langkah biasa, aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!”.
Aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri jatuh di tanah ditambah tiga
langkah, kemudian berjalandengan langkah biasa dimulai dengan kaki kiri yang dihentakkan
disertai dengan lenggangan tangan.
d. Untuk berhenti dari
keadaan berlari, aba-aba: “Henti … GERAK!”.
Aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktukaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah tiga langkah. Selanjutnya kaki dirapatkan, tangan diturunkan, sikap
sempurna.
LANGKAH MERDEKA
Biasanya dlakukan untuk menempuh jalan jauh, di luar kota atau lapangan
yang tidak rata. Atas pertimbangan pelatih/komandan pasukan boleh melakukan
hal-hal yang terlarang apabila dilakukan pada langkah yang lain seperti berbicara,
bernyanyi, membuka topi, menghapus keringat, dll. Tetapi tetap dalam barisan.
a. Dari langkah biasa,
aba-aba: “Langkah merdeka … JALAN!”.
Pelaksanaan: anggota berjalan bebas tanpa terikat ketentuan macam, panjang
dan tempo langkah.
b. Untuk kembali ke
langkah biasa, terlebih dahulu harus diberikan aba-aba petunjuk: “Samakan
langkah!”. Setelah langkah barisan sama, aba-aba peringatan dan pelaksanaan
dapat diberikan: “Langkah biasa … JALAN!”. Aba-aba pelaksanaan diberika saat
kaki kiri/kanan jatuh di tanah ditambah satu langkah kemudian mulai berjalan
dengan ‘langkah biasa’ dan langkah pertama yang dihentakkan.
GANTI LANGKAH
Aba-aba: “Ganti langkah … JALAN!”.
Pelaksanaan: gerakan dapat dilakukan pada waktu langkah biasa ataupun tegap.
Aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah ditambah satu
langkah. Kemudian ujung kaki kanan/kiri yang di belakang dirapatkan pada tumit
kaki sebelahnya. Bersamaan dengan itu lenggang tangan dihentikan tanpa
dirapatkan pada badan, untuk selanjutnya menyesuaikan dengan langkah baru yang
disamakan. Langkah pertama tetap sepanjang satu langkah. Kedua gerakan ini
dilakukan dalam satu hitungan .
JALAN DI TEMPAT
a. Dari sikap sempurna,
aba-aba: “Jalan di tempat … GERAK!”.
Pelaksanaan: gerakan dimulai dengan dari kaki kiri, lutut diangkat
bergantian, paha rata-rata air (horizontal), ujung kaki menuju ke bawah dengan
tempo sepert tempo pada ‘langkah biasa’. Badan tegak, pandangan mata ke depan,
lengan tetap lurus di samping badan/tidak dilenggangkan.
b. Dari langkah biasa,
aba-aba: ““Jalan di tempat … GERAK!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri/kanan jatuh di
tanah ditambah satu langkah, selanjutnya dimulai dengan kai kanan berjalan di
tempat, dst.
c. Dari jalan di
tempat ke langkah biasa, aba-aba: “Maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri jatu di tanah,
kemudian ditambah satu langkah di tempat dan mulai berjalandengan
menghentakkan kaki kiri satu lengkah ke depan dan dilanjutkan dengan ‘langkah
biasa’.
d. Dari jalan di tempat
ke berhenti, aba-aba: “Henti … GERAK!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kaki kiri/kanan jatuh
di tanah lalu ditambah satu langkah, selanjutnya kaki kiri/kanan
dirapatkan pada kaki kanan/kiri menurut irama langkah biasa dan mengambil sikap
sempurna.
BERHENTI
Aba-aba: “Henti … GERAK!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri/kanan jatuh di
tanah. Stselah ditambah satu langkah selanjutnya kaki kiri/kanan dirapatkan,
kemudian mengambil sikap sempurna.
PERUBAHAN ARAH DARI BERHENTI KE BERJALAN
a. Ke hadap kanan/kiri
maju jalan, aba-aba: “Hadap kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: membuat gerakan hadap kanan/kiri, pada hitungan ke tiga kaki
kiri/kanan tidak dirapatkan, tetapi dilangkahkan seperti gerakan ‘maju jalan’.
b. Ke hadap serong
kanan/kiri maju jalan, aba-aba: “Hadap serong kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: hadap serong kanan/kiri, dst seperti poin a.
c. Ke balik kanan
maju jalan, aba-aba: “Balik kanan, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: balik kanan, dst seperti poin a.
d. Ke belok kanan/kiri
maju jalan, aba-aba: “Belok kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: penjuru mengubah arah 90° ke kanan/kiri dan mulai
berjalan ke arah tertentu. Anggota-anggota lain mengikuti gerakan ini setibanya
di tempat penjuru berbelok.
Catatan: aba-aba lain: “Dua kali belok kanan/kiri, maju … JALAN!”, atau
“Tiap-tiap banjar, dua kali belok kanan/kiri maju … JALAN!”.
PERUBAHAN ARAH DARI BERJALAN KE BERJALAN
a. Ke hadap kanan/kiri
maju jalan, aba-aba: “Hadap kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah satu langkah, membuat gerakan hadap kanan/kiri, pada hitungan ke tiga
kaki kiri/kanan tidak dirapatkan, tetapi dilangkahkan seperti gerakan ‘maju
jalan’.
b. Ke hadap serong
kanan/kiri maju jalan, aba-aba: “Hadap serong kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah satu langkah, hadap serong kanan/kiri, dst seperti poin a.
c. Ke balik kanan
maju jalan, aba-aba: “Balik kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah satu/dua langkah, balik kanan/kiri, dst seperti poin a.
d. Ke belok kanan/kiri
maju jalan, aba-aba: “Belok kanan/kiri … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah satu langkah, penjuru mengubah arah 90° ke kanan/kiri dan mulai
berjalan ke arah tertentu. Anggota-anggota lain mengikuti gerakan ini setibanya
di tempat penjuru berbelok.
Catatan: untuk membelokkan pasukan di tempat/ruang/lapangan yang sempit,
maka dilakukan gerakan dengan:
a. Aba-aba: “Dua kali
belok kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan seperti tersebut di atas, selanjutnya setelah dua langkah
berjalan kemudian melakukan gerakan belok kanan/kiri lagi.
b. Aba-aba: “Tiap-tiap
banjar, dua kali belok kanan/kiri maju … JALAN!”.
Pelaksanaan seperti tersebut di atas, tetapi tiap-tiap banjar membuat
langsung dua kali belok kanan/kiri pada tempat dimana aba-aba pelaksanaan
diberikan..
PERUBAHAN ARAH DARI BERJALAN KE BERHENTI
a. Ke hadap kanan/kiri
berhenti, aba-aba: “Hadap kanan/kiri, henti …GERAK!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah satu langkah, membuat gerakan hadap kanan/kiri, pada hitungan ke tiga
kaki kiri/kanan dirapatkan, sikap sempurna.
b. Ke hadap serong kanan/kiri berhenti, aba-aba:
“Hadap serong kanan/kiri, henti…GERAK!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah satu langkah, hadap serong kanan/kiri.
c. Ke balik
kanan/kiri berhenti, aba-aba: “Balik kanan/kiri, henti…GERAK!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh saat kaki kiri/kanan jatuh di tanah
ditambah satu/dua langkah, balik kanan/kiri.
PERUBAHAN ARAH PADA WAKTU BERLARI
Perubahan arah pada waktu berjalan dapat dilakukan juga oleh pasukan dalam
keadaan berlari dengan ketentuan penambahan langkah tidak hanya satu langkah, tetapi
tiga langkah.
HALUAN KANAN/KIRI
Gerakan ini hanya dilakukan jika pasukan dalam keadaan bersaf.
a. Berhenti ke berhenti,
aba-aba: “Haluan kanan/kiri … JALAN!”.
Pelaksanaan: setelah aba-aba pelaksanaan, penjuru kanan/kiri berjalan di
tempat dengan memutar arah secara perlahan-lahan hingga berubah arah 90°.
Bersamaan dengan itu masing-masing saf mulai ‘maju jalan’ dengan rapi dan tidak
melenggang sambil meluruskan safnya hingga berubah arah 90°, kemudian berjalan
di tempat. Setelah penjuru kanan/kiri melihat safnya lurus kemudian memberi
isyarat: “LURUS!”, kemudian pelatih/komandan memberi aba-aba: “Henti … GERAK!”,
yang diucapkan pada waktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah. Setelah ditambah satu
langkah, seluruh pasukan berhenti.
b. Berhenti ke berjalan,
aba-aba: “Haluan kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan seperti poin a., hanya saja setelah ada isyarat: “LURUS” dari
penjuru, pelatih/komandan melanjutkan dengan aba-aba: “Maju … JALAN!”. Pasukan
‘maju jalan’ dengan gerakan ‘langkah biasa’.
c. Berjalan ke
berhenti, , aba-aba: “Haluan kanan/kiri … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh pada kaki kanan/kiri ditambah satu
langkah, kemudian dilanjutkan dengan gerakan seperti poin a.
d. Berjalan ke berjalan,
, aba-aba: “Haluan kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh pada kaki kanan/kiri ditambah satu
langkah, kemudian dilanjutkan dengan gerakan seperti poin b.
MELINTANG KANAN/KIRI
Gerakan ini hanya dilakukan jika pasukan dalam bentuk berbanjar, untuk mengubah
bentuk pasukan menjadi bersaf.
a. Berhenti ke berhenti,
aba-aba: “Melintang kanan/kiri … JALAN!”.
Pelaksanaan: setelah aba-aba pelaksanaan, melakukan gerakan hadap
kanan/kiri, kemudian pasukan membuat gerakan haluan kiri/kanan. Penjuru
kiri/kanan berjalan di tempat dengan memutar arah secara perlahan-lahan hingga
berubah arah 90°. Bersamaan dengan itu masing-masing saf mulai ‘maju jalan’
dengan rapi dan tidak melenggang sambil meluruskan safnya hingga berubah arah
90°, kemudian berjalan di tempat. Setelah penjuru kiri/kanan melihat safnya
lurus kemudian memberi isyarat: “LURUS!”, kemudian pelatih/komandan memberi
aba-aba: “Henti … GERAK!”, yang diucapkan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di
tanah. Setelah ditambah satu langkah, seluruh pasukan berhenti.
b. Berhenti ke berjalan,
aba-aba: “Melintang kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan seperti poin a., hanya saja setelah ada isyarat: “LURUS” dari
penjuru, pelatih/komandan melanjutkan dengan aba-aba: “Maju … JALAN!”. Pasukan
‘maju jalan’ dengan gerakan ‘langkah biasa’.
c. Berjalan ke
berjalan, , aba-aba: “Melintang kanan/kiri, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan jatuh pada kaki kanan/kiri ditambah satu
langkah, kemudian dilanjutkan dengan gerakan seperti poin b.
Upacara
dalam Penegak
1. Acara persiapan
Tiap-tiap pemimpin sangga memanggil anggotanya dengan barisan bersaf
Para pimpinan sangga memeriksa kebersiahan, kerapihan dll., sesuai dengan
tugasnya, dan penegak yang terpilih sebagai petugas upacara mempersiapkan
peralatan yang diperlukan dalam upacara pembukaan.
2. Uraian Kegiatan
Seluruh anggota ambalan dalam sangganya masing-masing membentuk barisan bersaf
pradana mengecek persiapan upacara untuk upacara pembukaan
3. Perlengkapan
Bendera Merah Putih, tiang bendera (biasanya stok yang disambung) yang sudah
berdiri , teks Pancasila, teks Dasa Darma
4. Acara Pokok
Pradana memanggil seluruh peserta upacara dengan pluit (bunyinya :
priiiiit.......dan dijawab Siaaaap oleh para penegak), kemudian pradana membuat
kode bersaf sambil meniup pluit dengan bunyi ptit..prit...prit..maka berlarilah
para penegak membentuk barisan bersaf menurut sanggaya masing-masing.
Laporan tiap-tiap pinsa (pimpinan sangga) kepada pradana. dalam hal ini pinsa
melaporkan nama sangga dan jumlah anggota yang hadir.
5. Penjemputan Pembina Upacara Yanda/Bunda
pradana/Pemimpin Upacara menjemput pembina upacara
pradana menjemput pembina dengan ucapan "kak, upacara pembukaan latihan
ambalan sudah bisa dimulai apakah kakak sudi membukanya." kemudian pembina
mengatakan "Terima kasih", saya bersedia." kemudian pradana
mengantar pembina memasuki barisan dan menempatkannya di barisan paling kanan.
setelah itu pradana kembali ketempat semula.
6. Pengibaran Bendera Merah Putih
pradana memerintahkan petugas bendera untuk menaikkan bendera dengan ucapan
"petugas bendera". dan petugas pun maju membawa bendera merah putih.
Kemudian setelah bendera siap diikat, penghormatan dipimpin oleh pradana dan
diikuti oleh seluruh peserta upacara
7. Pembacaan Teks Pancasila
Pradana menjemput pembina untuk maju ke depan
Pembacaan teks Pancasila oleh pembina upacara
pembiana membacakan teks Pancasila diikuti oleh seluruh peserta upacara
8. Pembacaan teks Dasa darma
Pembacaan teks Dasa Darma oleh Sulung
Petugas Dasa Darma,
9. Kata Bimbingan
Pembina memberikan kata bimbingan
Pada waktu memberikan kata bimbingan Pembiana cukup dengan sikap instirahat
maka seluruh peserta upacara mengikutinya dengan sikap istirahat
Selesai pengarahan Pembina kembali sikap sempurna dan diikuti oleh seluruh
peserta upacara dengan sikap sempurna/siap
10. Do'a
doa dipimpin oleh pradana
doa boleh secara berjamaah. boleh juga secara sendiri-sendiri.
11. Selesai
Upacara Pembukaan selesai
Selesai berdo'a maka selesailah upacara
dilanjutkan dengan kegiatan lainnya.