Biografi
Nelson mandela. Tokoh perdamaian Nelson Rolihlahla Mandela dilahirkan di Mvezo, 18 Juli
1918 dan meninggal pada tanggal 05 Desember 2013, Nelson Mandela dikenal di
seluruh dunia sebagai pejuang kemerdekaan melalui kegiatan anti apartheidnya
dan kemudian menjadi Presiden Afrika Selatan. Masa kecilnya dihabiskan di
Thembu kemudian memulai karir di bidang hukum. Beliau juga memiliki nama
kehormatan dari klannya yaitu Madiba. Dilahirkan di Mvezo, Transkei pada 18
Juli 1918, Rolihlahla Mendela kemudian pindah ke Qunu sampai berumur 9 tahun.
Ia merupakan yang pertama dari keluarganya yang mengikuti sekolah. Ia juga
mendapat nama Nelson dari gurunya yang seorang Metodis. Pada umur 16 tahun, ia
masuk Clarkebury Boarding Institute mempelajari kebudayaan barat.
Pada 1934, ia memulai program B.A. di Fort Hare University, dimana ia bertemu Oliver Tambo yang menjadi teman dan koleganya yang setia. Setelah menentang kebijakan universitas dan diminta keluar. Ia pindah ke Johannesburg dan melanjutkan kuliahnya di University of South Africa setelah mengambil hukum di University of the Witswatersrand.
Pernikahan pertama Mandela dengan Evelyn Ntoko Mase berakhir dengan perceraian pada 1957 setelah 13 tahun. Pernikahannya dengan Winnie Madikizela yang berjalan 38 tahun berakhir dengan perceraian 1996. Pada ulang tahunnya ke-80, Mandela menikahi Graça Machel, janda dari mantan Presiden Mozambik Samora Machel, yang juga seorang kawan ANC.
Rolihlahla Mendela kemudian pindah ke Qunu sampai berumur 9 tahun. Ia merupakan yang pertama dari keluarganya yang mengikuti sekolah. Ia juga mendapat
Pada 1934, ia memulai program B.A. di Fort Hare University, dimana ia bertemu Oliver Tambo yang menjadi teman dan koleganya yang setia. Setelah menentang kebijakan universitas dan diminta keluar. Ia pindah ke Johannesburg dan melanjutkan kuliahnya di University of South Africa setelah mengambil hukum di University of the Witswatersrand.
Pernikahan pertama Mandela dengan Evelyn Ntoko Mase berakhir dengan perceraian pada 1957 setelah 13 tahun. Pernikahannya dengan Winnie Madikizela yang berjalan 38 tahun berakhir dengan perceraian 1996. Pada ulang tahunnya ke-80, Mandela menikahi Graça Machel, janda dari mantan Presiden Mozambik Samora Machel, yang juga seorang kawan ANC.
Rolihlahla Mendela kemudian pindah ke Qunu sampai berumur 9 tahun. Ia merupakan yang pertama dari keluarganya yang mengikuti sekolah. Ia juga mendapat
nama Nelson
dari gurunya yang seorang Metodis. Pada umur 16 tahun, ia masuk Clarkebury
Boarding Institute mempelajari kebudayaan barat.
Pada 1934, ia memulai program B.A. di Fort Hare University, dimana ia bertemu Oliver Tambo yang menjadi teman dan koleganya yang setia. Setelah menentang kebijakan universitas dan diminta keluar. Ia pindah ke Johannesburg dan melanjutkan kuliahnya di University of South Africa setelah mengambil hukum di University of the Witswatersrand.
Sebagai Aktivis Nelson Mandela mengikuti African National Congress (ANC) dari tahun 1942.Karena kegiatannya yang antiapartheid, ia menjalani berbagai masa hukuman. Pada 5 Agustus 1962, Mandela ditangkap dan dipenjarakan di Johannesburg Fort kemudian pada 25 Oktober 1962, ia dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan pada 12 Juni 1964, ia dan sekelompok aktivis lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Setelah menolak pembebasan bersyarat dengan menghentikan perjuangan bersenjata pada Februari 1985, Mandela tinggal di penjara sampai dibebaskan pada 11 Februari 1990 atas perintah Presiden Frederik Willem de Klerk setelah ditekan oleh seluruh dunia. Mandela dan de Klerk mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian pada 1993
Nelson Mandela menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan dalam masa sekitar 5 tahun (Mei 1994 - Juni 1999) setelah memenangkan Pemilu dan menjadi presiden kulit hitam pertama dengan de Klerk sebagai Deputi presiden. Masalah AIDS menjadi sumber kekecewaan orang-orang dan penyesalan Mandela karena dalam masa pemerintahannya, ia kurang memperhatikan masalah ini. Anaknya, Makgatho Mandela, meninggal karena AIDS pada 6 Januari 2005.
Nelson Mandela, pemimpin anti-apartheid dan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, meninggal dunia hari Kamis tanggal 05 Desember 2013. Ia tutup usia 95 tahun. Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma mengumumkan kematian Mandela. Mandela yang hampir tiga dasawarsa di penjara dalam perjuangan untuk mengakhiri pemerintahan minoritas kulit putih dan diskriminasi terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan.
Pada 1934, ia memulai program B.A. di Fort Hare University, dimana ia bertemu Oliver Tambo yang menjadi teman dan koleganya yang setia. Setelah menentang kebijakan universitas dan diminta keluar. Ia pindah ke Johannesburg dan melanjutkan kuliahnya di University of South Africa setelah mengambil hukum di University of the Witswatersrand.
Sebagai Aktivis Nelson Mandela mengikuti African National Congress (ANC) dari tahun 1942.Karena kegiatannya yang antiapartheid, ia menjalani berbagai masa hukuman. Pada 5 Agustus 1962, Mandela ditangkap dan dipenjarakan di Johannesburg Fort kemudian pada 25 Oktober 1962, ia dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan pada 12 Juni 1964, ia dan sekelompok aktivis lainnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Setelah menolak pembebasan bersyarat dengan menghentikan perjuangan bersenjata pada Februari 1985, Mandela tinggal di penjara sampai dibebaskan pada 11 Februari 1990 atas perintah Presiden Frederik Willem de Klerk setelah ditekan oleh seluruh dunia. Mandela dan de Klerk mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian pada 1993
Nelson Mandela menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan dalam masa sekitar 5 tahun (Mei 1994 - Juni 1999) setelah memenangkan Pemilu dan menjadi presiden kulit hitam pertama dengan de Klerk sebagai Deputi presiden. Masalah AIDS menjadi sumber kekecewaan orang-orang dan penyesalan Mandela karena dalam masa pemerintahannya, ia kurang memperhatikan masalah ini. Anaknya, Makgatho Mandela, meninggal karena AIDS pada 6 Januari 2005.
Nelson Mandela, pemimpin anti-apartheid dan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, meninggal dunia hari Kamis tanggal 05 Desember 2013. Ia tutup usia 95 tahun. Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma mengumumkan kematian Mandela. Mandela yang hampir tiga dasawarsa di penjara dalam perjuangan untuk mengakhiri pemerintahan minoritas kulit putih dan diskriminasi terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan.
Nelson Mandela
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
|
Mandela tahun 2008
|
|
|
Masa jabatan
10 Mei 1994 – 14 Juni 1999 |
|
|
Deputi
|
|
|
Didahului
oleh
|
|
|
Digantikan
oleh
|
|
|
Informasi pribadi
|
|
|
Lahir
|
|
|
Meninggal
|
|
|
Kebangsaan
|
|
|
Partai
politik
|
|
|
Suami/istri
|
|
|
Anak
|
|
|
Tempat
tinggal
|
|
|
Agama
|
|
|
Tanda
tangan
|
|
|
Sosial media
|
|
|
Situs web
|
|
Nelson
Rolihlahla Mandela (pengucapan Xhosa: [xoˈliːɬaɬa manˈdeːla]; lahir di Mvezo, Afrika
Selatan, 18 Juli 1918 – meninggal di Johannesburg, Afrika
Selatan, 5 Desember 2013 pada umur 95 tahun) adalah seorang revolusioner anti-apartheid dan
politisi Afrika Selatan yang menjabat sebagai Presiden
Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999. Ia adalah orang Afrika
Selatan berkulit hitam pertama yang memegang jabatan tersebut dan presiden
pertama yang terpilih melalui keterwakilan
penuh, dalam
sebuah pemilu multiras. Pemerintahannya berfokus
pada penghapusan pengaruh apartheid dengan
memberantas rasisme, kemiskinan dan kesenjangan, dan mendorong rekonsiliasi
rasial. Selaku nasionalis Afrika dan sosialis demokratik, ia
menjabat sebagai Presiden Kongres Nasional Afrika (ANC) pada
1991 sampai 1997. Selain itu, Mandela pernah menjadi Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok pada 1998
sampai 1999.
Terlahir
dari keluarga kerajaan Thembu dan bersuku
Xhosa, Mandela belajar hukum di Fort Hare University dan University of Witwatersrand. Ketika menetap di Johannesburg, ia
terlibat dalam politik anti-kolonial, bergabung dengan ANC, dan menjadi anggota
pendiri Liga Pemuda ANC. Setelah
kaum nasionalis
Afrikaner dari Partai Nasional berkuasa tahun 1948 dan menerapkan
kebijakan apartheid, popularitas Mandela melejit di Defiance Campaign ANC tahun
1952, terpilih menjadi Presiden ANC Transvaal, dan menghadiri Congress of the People tahun 1955. Sebagai pengacara, ia berulang kali
ditahan karena melakukan aktivitas menghasut dan, sebagai ketua ANC, diadili di
Pengadilan Pengkhianatan pada 1956
sampai 1961, namun akhirnya divonis tidak bersalah. Meski awalnya berunjuk rasa
tanpa kekerasan, ia dan Partai Komunis Afrika Selatan mendirikan
militan Umkhonto we Sizwe (MK) tahun
1961 dan memimpin kampanye pengeboman terhadap target-target pemerintahan. Pada
1962, ia ditahan dan dituduh melakukan sabotase dan
bersekongkol menggulingkan pemerintahan, dan dihukum penjara seumur hidup di Pengadilan Rivonia.
Mandela
menjalani masa kurungan 27 tahun, pertama di Pulau Robben, kemudian
di Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster. Kampanye internasional yang
menuntut pembebasannya membuat Mandela dibebaskan tahun 1990. Setelah menjadi
Presiden ANC, Mandela menerbitkan otobiografi dan bernegosiasi dengan Presiden F.W. de
Klerk untuk
menghapuskan apartheid dan melaksanakan pemilu multiras tahun 1994 yang kelak
dimenangkan ANC. Ia terpilih sebagai Presiden dan
membentuk Pemerintahan Persatuan Nasional. Selaku
Presiden, ia menyusun konstitusi baru dan
membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk
menyelidiki pelanggaran-pelanggaran HAM sebelumnya. Ia juga memperkenalkan
kebijakan reformasi lahan, pemberantasan kemiskinan, dan perluasan cakupan
layanan kesehatan. Di luar negeri, ia bertindak sebagai mediator antara Libya
dan Britania Raya dalam pengadilan pengeboman Pan Am
Penerbangan 103 dan mengawasi intervensi militer di Lesotho. Ia menolak
mencalonkan diri untuk kedua kalinya dan digantikan oleh wakilnya, Thabo Mbeki. Ia
kemudian menjadi negarawan ulung yang berfokus pada aktivitas amal demi
memberantas kemiskinan dan HIV/AIDS melalui
Nelson Mandela Foundation.
Kontroversial
nyaris sepanjang hayatnya, para kritikus sayap kanan menyebut Mandela teroris
dan simpatisan komunis. Meski begitu, ia memperoleh pengakuan internasional
atas sikap anti-kolonial dan anti-apartheidnya, menerima lebih dari 250 penghargaan, termasuk Hadiah
Perdamaian Nobel 1993, Medali Kebebasan Presiden Amerika
Serikat, dan Order of Lenin dari Uni
Soviet. Ia sangat dihormati di Afrika Selatan dan lebih dikenal dengan nama klan
Xhosa-nya, Madiba
atau tata. Nelson Mandela sering dijuluki "bapak
bangsa".
Daftar isi
- 1 Kehidupan awal
- 1.1 Masa kecil: 1918–1936
- 1.2 Clarkebury, Healdtown, dan
Fort Hare: 1936–1940
- 1.3 Tiba di Johannesburg:
1941–1943
- 2 Aktivitas revolusi
- 2.1 Studi hukum dan ANC Youth
League: 1943–1949
- 2.2 Defiance Campaign dan
Presiden ANC Transvaal: 1950–1954
- 2.3 Kongres Rakyat dan
Pengadilan Pengkhianatan: 1955–1961
- 2.4 Umkhonto we Sizwe dan tur
Afrika: 1961–1962
- 3 Penahanan
- 3.1 Penangkapan dan pengadilan
Rivonia: 1962–1964
- 3.2 Pulau Robben: 1962–1982
- 3.3 Penjara Pollsmoor:
1982–1988
- 3.4 Penjara Victor Verster dan
pembebasan: 1988–1990
- 4 Akhir apartheid
- 5 Kepemimpinan di Afrika
Selatan: 1994–1999
- 5.1 Rekonsiliasi nasional
- 5.2 Program dalam negeri
- 5.3 Hubungan luar negeri
- 5.4 Penarikan diri dari
politik
- 6 Masa pensiun
- 7 Kehidupan pribadi dan publik
- 8 Pengaruh
- 9 Referensi
- 10 Pranala luar
Mandela
lahir tanggal 18 Juli 1918 di desa Mvezo di Umtatu, waktu itu terletak di Provinsi
Cape, Afrika Selatan.[1] Dengan nama
depan Rolihlahla, istilah Xhosa yang berarti "pembuat masalah",[1] ia nantinya
justru lebih dikenal dengan nama klannya, Madiba.[2] Kakek buyut
dari ayahnya, Ngubengcuka, adalah penguasa suku Thembu di Teritori Transkei yang saat
ini menjadi provinsi Eastern Cape di Afrika
Selatan.[3] Salah satu
putranya, Mandela, menjadi kakek Nelson dan sumber nama belakangnya.[4] Karena
Mandela adalah satu-satunya putra raja yang ibunya berasal dari klan Ixhiba, "Dinasti Tangan
Kiri", keturunan cabang kadet keluarga kerajaannya bersifat morganatik, artinya tidak berhak mewarisi
takhta tetapi diakui sebagai anggota dewan kerajaan yang jabatannya turun
temurun.[4] Karena itu,
ayahnya, Gadla Henry Mphakanyiswa, merupakan kepala suku setempat dan anggota dewan
kerajaan; ia dilantik tahun 1915 setelah pendahulunya dituduh korupsi oleh
hakim kulit putih yang berkuasa waktu itu.[5] Pada tahun
1926, Gadla juga dituduh melakukan korupsi dan Nelson kelak diberitahu bahwa
ayahnya dipecat karena bersikukuh menolak permintaan hakim yang tidak masuk
akal.[6] Sebagai
penyembah dewa Qamata,[7] Gadla
adalah seorang poligamis yang
memiliki empat istri, empat putra, dan sembilan putri, yang tinggal di beberapa
desa. Ibu Nelson, Nosekeni Fanny, adalah istri ketiga Gadla yang merupakan
putri Nkedama dari Dinasti Tangan Kanan dan anggota klan amaMpemvu.[8]
"Tak satupun di keluargaku yang pernah bersekolah
[...] Pada hari pertama sekolah, guruku, Miss Mdingane, memberikan nama Inggris
kepada setiap murid. Ini adalah kebiasaan orang Afrika waktu itu dan tentunya
dikarenakan pengaruh Britania pada pendidikan kami. Hari itu, Miss Mdingane
memberitahuku bahwa nama baruku adalah Nelson. Aku tidak tahu mengapa ia
memilih nama itu."
Sempat
menyebut kehidupan awalnya didominasi "adat, ritual, dan tabu",[10] Mandela
tumbuh bersama dua saudarinya di kraal ibunya di
desa Qunu, tempat Mandela bekerja sebagai gembala sapi dan menghabiskan waktunya
bersama anak-anak lain.[11] Kedua orang
tuanya buta huruf, namun merupakan penganut Kristen yang taat.
Ibunya mengirimkan Mandela ke sekolah Methodis setempat
ketika menginjak usia 7 tahun. Dibaptis sebagai Methodis, Mandela diberi nama
depan Inggris "Nelson" oleh gurunya.[12] Saat
Mandela kira-kira berusia 9 tahun, ayahnya menetap di Qunu dan meninggal akibat
penyakit yang tidak diketahui yang diyakini Mandela sebagai penyakit paru-paru.[13] Merasa
"terabaikan", ia kelak mengaku mewarisi "sifat pemberontak
bangga" dan "rasa keadilan yang keras" dari ayahnya.[14]
Ibunya
membawa Mandela ke istana "Great Place" di Mqhekezweni, lalu
dipercayakan untuk asuhan bupati Thembu, Kepala Suku Jongintaba
Dalindyebo. Meski ia tidak akan melihat ibunya lagi selama sekian tahun,
Mandela merasa bahwa Jongintaba dan istrinya Noengland memperlakukannya seperti
anak sendiri, membesarkannya bersama putra-putri mereka, Justice dan Nomafu.[15] Karena
Mandela sering menghadiri misa setiap Minggu bersama orang tua asuhnya, Kristen
menjadi bagian utama hidupnya.[16] Ia
mengenyam pendidikan di sekolah misi Methodis dekat istana tersebut. Di sana ia
belajar bahasa Inggris, Xhosa, sejarah, dan geografi.[17] Ia mulai
tertarik dengan sejarah Afrika, mendengarkan cerita-cerita yang diujarkan para
pengunjung istana yang tua, dan terpengaruh retorika anti-imperialis Kepala
Suku Joyi.[18] Waktu itu,
ia tetap saja menganggap kolonialis Eropa sebagai penolong, bukan penindas.[19] Pada usia
16 tahun, ia, Justice, dan teman-temannya berangkat ke Tyhalarha untuk
menjalani ritual sunat yang secara simbolis menandakan mereka sudah dewasa.
Seusai ritual, Mandela diberi nama "Dalibunga".[20]
Mandela,
sekitar 1937
Untuk
mendapatkan keterampilan supaya bisa menjadi anggota dewan penasihat untuk
keluarga raja Thembu, Mandela mengenyam pendidikan menengah di Clarkebury
Boarding Institute di Engcobo, institusi bergaya Barat yang
merupakan sekolah Afrika berkulit hitam terbesar di Thembuland.[21] Dirancang
supaya murid-muridnya saling bersosialisasi setiap hari, ia mengklaim
kehilangan sikap "tertutupnya" dan berteman baik dengan wanita untuk
pertama kalinya; ia mulai berolahraga dan merintis kecintaannya dalam berkebun.[22] Setelah
menyelesaikan Junior Certificate selama dua tahun,[23] pada tahun
1937 ia pindah ke Healdtown, perguruan
Methodis di Fort Beaufort yang juga dihadiri sebagian besar
anggota keluarga raja Thembu, termasuk Justice.[24] Kepala
sekolah menekankan superioritas budaya dan pemerintahan Inggris, namun Mandela
semakin tertarik dengan budaya Afrika pribumi dan berteman untuk pertama
kalinya dengan orang non-Xhosa, seorang penutur bahasa Sotho, dan
dipengaruhi salah satu guru favoritnya, seorang Xhosa yang mematahkan tabu
dengan menikahi orang Sotho.[25] Selain
menghabiskan waktu luangnya dengan berlari dan tinju, pada tahun keduanya
Mandela memutuskan menjadi prefek.[26]
Dengan
bantuan Jongintaba, Mandela mengambil gelar Bachelor of Arts (BA) di University of Fort Hare, institusi
kulit hitam elit di Alice, Eastern Cape dengan kurang lebih 150 mahasiswa.
Di sana ia belajar bahasa Inggris, antropologi, politik,
pemerintahan pribumi, dan hukum Belanda Romawi pada tahun pertamanya, dan ingin
menjadi penerjemah atau juru tulis di Departemen Urusan Pribumi.[27] Mandela
menetap di asrama Wesley House, berteman dengan Oliver Tambo dan sesama
anggota sukunya, K.D. Matanzima.[28] Melanjutkan
ketertarikannya di bidang olahraga, Mandela mengambil kelas tari ballroom,[29] dan
terlibat dalam pementasan drama tentang Abraham Lincoln.[30] Sebagai
anggota Students Christian Association, ia memimpin kelas Injil untuk
masyarakat setempat[31] dan menjadi
pendukung Britania Raya ketika Perang Dunia
Kedua pecah.[32] Meski
teman-temannya memiliki hubungan dengan Kongres
Nasional Afrika (ANC) dan gerakan anti-impterialis, Mandela tidak mau
terlibat.[33] Setelah
membantu mendirikan House Committee untuk mahasiswa tahun pertama yang melawan
dominasi mahasiswa tahun kedua,[34] di akhir
tahun pertamanya ia terlibat aksi boikot Students' Representative Council (SRC)
terhadap kualitas makanan, sehingga ia diskors sementara dari universitas; ia
meninggalkan kuliahnya tanpa gelar.[35]
Sepulangnya
ke Mqhekezweni bulan Desember 1940, Mandela mengetahui bahwa Jongintaba telah mengatur dua pernikahan untuk
Mandela dan Justice; karena tidak senang, mereka pergi ke Johannesburg melalui Queenstown dan tiba
bulan April 1941.[36] Mandela
bekerja sebagai pengawas malam di Crown Mines, "pemandangan kapitalisme
Afrika Selatan pertama[nya]", tetapi dipecat setelah induna
(mandor) mengetahui ia kabur dari rumah.[37] Setelah
menetap di rumah sepupunya di George Goch Township, Mandela diperkenalkan pada pemasar
rumah dan aktivis ANC Walter Sisulu, yang memberinya pekerjaan sebagai articled clerk di firma hukum Witkin, Sidelsky and
Edelman. Perusahaan ini dioperasikan oleh seorang Yahudi liberal, Lazar
Sidelsky, yang simpati terhadap perjuangan ANC.[38] Di firma
tersebut, Mandela berteman dengan Gaur Redebe, anggota ANC dan Partai Komunis bersuku
Xhosa, dan Nat Bregman, komunis Yahudi yang menjadi teman kulit putih
pertamanya.[39] Dengan
menghadiri pertemuan-pertemuan komunis, Mandela terpesona melihat orang Eropa, Afrika, India dan Kleurlinge berbaur
begitu saja. Akan tetapi, ia kemudian mengaku tidak bergabung dengan Partai
tersebut karena sifat ateismenya bertentangan dengan keyakinan Kristen Mandela,
dan karena ia memandang perjuangan Afrika Selatan lebih berbasis ras alih-alih kesejahteraan kelas.[40] Semakin
terpolitisasi, bulan Agustus 1943 Mandela mendukung boikot bus demi
menggagalkan kenaikan tarif.[41] Untuk
melanjutkan pendidikan tingginya, Mandela mengikuti kursus korespondensi di University of South Africa dan
mengerjakan tugas akhirnya pada malam hari.[42]
Dengan upah
kecil, Mandela menyewa kamar di rumah keluarga Xhoma di Alexandra Township;
meski penuh kemiskinan, kejahatan, dan polusi, Alexandra selalu menjadi
"tempat berharga" baginya.[43] Walaupun
malu dengan kemiskinan yang dialaminya, ia sempat merayu seorang wanita Swazi sebelum gagal merayu putri tuan tanahnya.[44] Setelah
menemukan kamar sewa yang lebih murah, Mandela pindah ke markas Witwatersrand Native Labour
Association, tinggal bersama para penambang dari berbagai suku dan bertemu Ratu Basutoland.[45] Pada akhir
1941, Jongintaba mengunjungi Mandela dan memaafkan kelakuannya. Sepulangnya ke
Thembuland, sang bupati meninggal dunia pada musim dingin 1942, Mandela dan
Justice terlambat sehari untuk menghadiri pemakamannya.[46] Pasca
wisuda awal 1943, Mandela kembali ke Johannesburg untuk menjadi pengacara
alih-alih anggota dewan penasihat di Thembuland.[47] Ia kelak
berkata bahwa saat itu ia tidak sadar, tapi "mengetahui diriku sedang
melakukannya dan tidak bisa melawan."[48]
Saat belajar
hukum di University of Witwatersrand, Mandela adalah satu-satunya orang
pribumi Afrika di fakultas tersebut, dan meski menghadapi rasisme ia berteman
dengan sejumlah mahasiswa Eropa, Yahudi, dan India liberal dan komunis,
termasuk Joe Slovo, Harry Schwarz, dan Ruth First.[49] Setelah
bergabung dengan ANC, Mandela semakin dipengaruhi Sisulu dan menghabiskan
waktunya bersama aktivis lain di rumah Sisulu di Orlando, termasuk teman lamanya Oliver
Tambo.[50] Tahun 1943,
Mandela bertemu Anton Lembede, seorang nasionalis Afrika yang sangat menentang front ras
bersatu terhadap kolonialisme dan imperialisme atau aliansi dengan kaum
komunis.[51] Meski
berteman dengan orang non-kulit hitam dan komunis, Mandela mendukung pandangan
Lembede, percaya bahwa orang Afrika kulit hitam harus terbebas sepenuhnya dalam
perjuangan mendapatkan penentuan nasib sendiri secara politik.[52] Merasa
perlunya sayap pemuda untuk memobilisasi penduduk Afrika secara besar-besaran
dalam penentangan penindasan mereka, Mandela ikut dalam delegasi yang
memberitahu Presiden ANC Alfred
Bitini Xuma soal rencana tersebut dirumahnya di Sophiatown; African National Congress Youth League (ANCYL)
didirikan pada Minggu Paskah 1944 di Bantu Men's Social Centre di Eloff
Street; Lembede menjadi Presiden dan Mandela menjadi anggota komite eksekutif.[53]
Mandela dan
Evelyn tahun 1944
Di rumah
Sisulu, Mandela bertemu Evelyn Mase, seorang aktivis ANC dan perawat
dari Engcobo, Transkei. Menikah
tanggal 5 Oktober 1944, setelah awalnya tinggal bersama kerabat Evelyn, mereka
menyewa Rumah no. 8115 di Orlando pada awal 1946.[54] Anak
pertama mereka, Madiba "Thembi" Thembekile, lahir bulan Februari
1946, sementara seorang putri bernama Makaziwe lahir tahun 1947 namun meninggal
9 bulan kemudian akibat meningitis.[55] Mandela
menikmati kehidupan rumah tangga, mengajak ibu dan saudarinya Leabie untuk
tinggal bersamanya.[56] Pada awal
1947, masa kerjanya di Witkin, Sidelsky and Edelman selama tiga tahun berakhir
dan ia memutuskan menjadi mahasiswa purnawaktu, bergantung pada pinjaman dari
Bantu Welfare Trust.[57]
Bulan Juli
1947, Mandela melarikan Lembede ke rumah sakit, tempat ia meninggal dunia;
Lembede digantikan sebagai presiden ANCYL oleh Peter Mda yang lebih moderat dan
sepakat bekerja sama dengan kaum komunis dan non-kulit hitam. Mda menunjuk
Mandela sebagai sekretaris ANCYL.[58] Pada
Desember 1947, Mandela tidak sependapat dengan pendekatan Mda untuk mendukung
upaya pengusiran kaum komunis dari ANCYL, karena ideologi mereka dianggap tidak
Afrikawi; upaya ini terbukti gagal.[59] Tahun 1947,
Mandela terpilih masuk komite eksekutif ANC Transvaal di bawah presiden
regional C.S. Ramohanoe. Ketika Ramohanoe bertindak melawan keinginan Komite
Eksekutif Transvaal dengan bekerja sama dengan orang India dan komunis, Mandela
termasuk salah satu yang memaksanya mengundurkan diri.[60]
Pada pemilihan umum Afrika Selatan 1948 yang hanya
boleh diikuti penduduk kulit putih, Partai Herenigde Nasionale yang
didominasi Afrikaner pimpinan Daniel
François Malan menang dan bergabung dengan Partai Afrikaner menjadi Partai Nasional. Karena rasialis secara
terbuka, partai ini meresmikan dan memperluas segregasi ras melalui
undang-undang apartheid yang baru.[61] Semakin
meningkat pengaruhnya di ANC, Mandela dan kader-kadernya mulai menyerukan aksi
langsung terhadap apartheid, seperti boikot dan mogok, yang dipengaruhi oleh
taktik masyarakat India Afrika Selatan. Xuma tidak mendukung aksi ini dan
didepak dari kursi presiden melalui pemungutan suara tidak percaya dan
digantikan oleh James Moroka dan kabinet yang lebih militan yang
terdiri dari Sisulu, Mda, Tambo, dan Godfrey Pitje; Mandela kelak berkata bahwa
"Kami sekarang telah memandu ANC ke jalur yang lebih radikal dan
revolusioner."[62] Karena
meluangkan waktunya untuk politik, Mandela gagal pada tahun terakhirnya
sebanyak tiga kali di Witwatersrand; gelarnya akhirnya ditahan permanen pada
Desember 1949.[63]
Bendera
triwarna Kongres Nasional Afrika
Mandela
menggantikan Xuma sebagai Eksekutif Nasional ANC pada bulan Maret 1950.[64] Bulan itu,
Defend Free Speech Convention diadakan di Johannesburg dan meminta para aktivis
Afrika, India, dan komunis melakukan mogok massal anti-apartheid. Mandela
menentang mogok tersebut karena tidak dipimpin ANC, tetapi mayoritas pekerja
berkulit hitam terlibat, sehingga kepolisian terpaksa meningkatkan aksi
kekerasan dan memperkenalkan Undang-Undang Pemberantasan
Komunisme 1950 yang memengaruhi aksi semua kelompok pengunjuk rasa.[65] Pada tahun
1950, Mandela terpilih sebagai presiden nasional ANCYL; di konferensi nasional
ANC Desember 1951, ia terus menentang front ras bersatu, sayangnya ia kalah
jumlah suara.[66] Sejak itu,
ia mengubah seluruh sudut pandangnya dan beralih ke pandangan tadi; dipengaruhi
teman-temannya seperti Moses Kotane dan dukungan Uni Soviet terhadap perang pembebasan nasional.
Ketidakpercayaan Mandela terhadap komunisme juga patah. Ia terpengaruh
tulisan-tulisan Karl Marx, Friedrich
Engels, Vladimir
Lenin, Joseph
Stalin, dan Mao Zedong, dan
menganut materialisme
dialektik.[67] Pada April
1952, Mandela mulai bekerja di firma hukum H.M. Basner,[68] meski
komitmen kerja dan aktivismenya yang meningkat berarti ia menghabiskan lebih
sedikit waktunya untuk keluarga.[69]
Tahun 1952,
ANC memulai persiapan Defiance Campaign gabungan
terhadap apartheid dengan kelompok India dan komunis dan mendirikan National
Voluntary Board untuk merekrut voluntir. Tentang jalur pemberontakan non-kekerasan yang
dipengaruhi Mohandas Gandhi, beberapa pihak menganggapnya pilihan yang etis,
tetapi Mandela menganggapnya pragmatis.[70] Di rapat
umum Durban tanggal 22
Juni, Mandela menyampaikan pidato di hadapan 10.000 orang, memulai protes
kampanye, yang karena itu ia ditangkap dan ditahan sementara di penjara
Marshall Square.[71] Seiring
berlanjutnya protes, keanggotaan ANC meledak dari 20.000 menjadi 100.000;
pemerintah menanggapi dengan penangkapan massal dan memperkenalkan Undang-Undang Keselamatan Umum 1953 supaya bisa
menerapkan darurat militer.[72] Bulan Mei,
pihak berwenang melarang Presiden ANU Transvaal J. B. Marks tampil di hadapan publik; karena
gagal mempertahankan posisinya, ia menyarankan agar Mandela menggantikannya.
Meski kelompok ultra-Afrikanis Bafabegiya menentang pencalonannya, Mandela
terpilih sebagai presiden regional pada bulan Oktober October.[73]
|
Pada awal
1950-an, Mandela dipengaruhi pemikiran anti-kolonialis sayap kiri, termasuk
olah tokoh-tokoh seperti Karl Marx (kiri) dan Jawaharlal Nehru (kanan).
|
||
Tanggal 30
Juli 1952, Mandela ditangkap di bawah UU Pemberantasan Komunisme dan diadili
sebagai bagian dari 21 orang terdakwa—termasuk Moroka, Sisulu, dan Dadoo—di
Johannesburg. Dinyatakan bersalah karena "komunisme menurut
undang-undang", hukuman kerja paksa mereka
selama sembilan bulan diperpanjang menjadi dua tahun.[74] Bulan
Desember, Mandela dijatuhkan larangan menghadiri pertemuan atau berbicara
kepada lebih dari satu orang dalam satu waktu selama enam bulan, sehingga
kepresidenan ANU Transvaal-nya menjadi tidak praktis. Defiance Campaign
berangsur-angsur selesai.[75] Bulan
September 1953, Andrew Kunene membacakan pidato "No Easy Walk to
Freedom" Mandela di sebuah pertemuan ANC Transvaal; judulnya diambil dari
kutipan pemimpin kemerdekaan India Jawaharlal Nehru, kelak
memengaruhi pemikiran Mandela. Pidato ini menetapkan rencana cadangan
seandainya ANC dibubarkan. Rencana Mandela (Mandela Plan) atau M-Plan
ini terdiri dari pembelahan organisasi menjadi struktur sel dengan kepemimpinan yang lebih
tersentralisasi.[76]
Mandela
mendapatkan pekerjaan sebagai pengacara untuk firma Terblanche and Briggish
sebelum pindah ke Helman and Michel yang liberal dan lulus tes kualifikasi
untuk menjadi pengacara penuh.[77] Pada
Agustus 1953, Mandela dan Oliver Tambo membuka firma hukumnya sendiri, Mandela and Tambo, yang beroperasi di pusat kota
Johannesburg. Sebagai satu-satunya firma hukum milik orang Afrika di negara
itu, firma ini populer di kalangan orang kulit hitam yang merasa dirugikan dan
sering menangani kasus kebrutalan polisi. Karena tidak disukai pihak berwenang,
firma ini dipaksa pindah ke lokasi terpencil setelah izin pendiriannya dicabut
sesuai Group Areas Act; akibatnya, pengguna jasa mereka
menyusut.[78] Walau putri
kedua, Makaziwe Phumia, lahir pada Mei 1954, hubungan Mandela dengan Evelyn
merenggang dan Evelyn menuduhnya selingkuh. Bukti-bukti muncul bahwa ia
selingkuh dengan anggota ANC Lillian Ngoyi dan sekretaris Ruth Mompati; klaim
kuat namun tanpa bukti menandakan Mompati memiliki anak dengan Mandela. Karena
jijik akan kelakuan putranya, Nosekeni pulang ke Transkei, sedangkan Evelyn
memeluk Saksi-Saksi
Yehuwa dan
menentang obsesi politik Mandela.[79]
"Kami, rakyat Afrika Selatan, menyatakan kepada
seluruh negeri dan dunia:
Bahwa Afrika Selatan adalah milik semua orang yang tinggal di dalamnya, hitam dan putih, dan tak satu pemerintahan pun yang dapat mengklaim kekuasaan kecuali berdasarkan keinginan rakyat."
Bahwa Afrika Selatan adalah milik semua orang yang tinggal di dalamnya, hitam dan putih, dan tak satu pemerintahan pun yang dapat mengklaim kekuasaan kecuali berdasarkan keinginan rakyat."
Mandela
berpendapat bahwa ANC "tidak punya alternatif terhadap pemberontakan
bersenjata dan keras" setelah terlibat dalam unjuk rasa yang gagal
mencegah penggusuran kota pinggiran berpenduduk kulit hitam Sophiatown,
Johannesburg, pada Februari 1955.[81] Ia
menyarankan Sisulu agar meminta persenjataan dari Republik Rakyat Tiongkok,
tetapi meski mendukung perjuangan anti-apartheid, pemerintah Cina percaya
gerakan ini tidak cukup siap untuk perang gerilya.[82] Dengan
keterlibatan South African Indian Congress, Coloured
People's Congress, South African Congress of Trade Unions dan Congress of Democrats, ANC
berencana mengadakan Kongres
Rakyat, meminta
semua warga Afrika Selatan mengirimkan proposal untuk zaman pasca-apartheid.
Berdasarkan tanggapan-tanggapan ini, Piagam Kebebasan dirancang oleh Rusty Bernstein yang isinya meminta pembentukan
negara demokratis non-rasialis disertai nasionalisasi industri
besar. Saat piagam ini diadopsi pada konferensi Juni 1955 di Kliptown yang
dihadiri 3000 delegasi, polisi membubarkan acara, namun ini tetap menjadi
bagian utama ideologi Mandela.[83]
Setelah
akhir pelarangan kecua bulan September 1955, Mandela cuti kerja ke Transkei
untuk membahas dampak Undang-Undang Otoritas Bantu 1951 bersama
ketua-ketua suku setempat. Ia juga menjenguk ibunya dan Noengland sebelum
melanjutkan perjalanan ke Cape Town.[84] Pada Maret
1956, ia dijatuhkan larangan tampil di hadapan publik untuk ketiga kalinya,
melarangnya masuk Johannesburg selama lima tahun, tetapi sering ia langgar.[85] Pernikahannya
berakhir setelah Evelyn meninggalkan Mandela, membawa anak-anak mereka ke rumah
saudaranya. Saat memulai sidang cerai bulan Mei 1956, ia mengklaim Mandela
menyiksanya secara fisik; ia menolak tuduhan-tuduhan tersebut dan berjuang
mendapatkan hak asuh anak-anaknya. Evelyn menarik petisi perceraiannya pada
November, namun Mandela meminta cerai pada Januari 1958; perceraian ini
akhirnya diputuskan bulan Maret yang hasilnya anak-anak berada di bawah asuhan
Evelyn.[86] Selama
sidang cerai, Mandela mulai merayu dan melakukan politisasi terhadap seorang
pekerja sosial, Winnie Madikizela, yang ia nikahi di Bizana tanggal 14 Juni 1958. Madikizela
kelak terlibat dalam aktivitas ANC dan sempat dipenjara selama beberapa minggu.[87]
Sistem
apartheid membatasi berbagai bidang kehidupan.
Pada tanggal
5 Desember 1956, Mandeal ditahan bersama sebagian besar eksekutif ANC karena
"pengkhianatan tinggi" terhadap negara. Pada sidang di Penjara
Johannesburg yang dipenuhi unjuk rasa massal, mereka menjalani pemeriksaan
sementara di Drill Hall tanggal 19 Desember sebelum dibebaskan dengan jaminan.[88] Sidang
sanggahan terdakwa dimulai tanggal 9 Januari 1957, melibatkan pengacara
terdakwa Vernon Berrangé, dan berlanjut sampai ditangguhkan
pada bulan September. Pada Januari 1958, hakim Oswald Pirow ditunjuk untuk menangani kasus ini,
dan pada Februari ia memutuskan bahwa ada "bukti yang cukup" supaya
para terdakwa diadili di Mahkamah Agung Transvaal.[89] Pengadilan Pengkhianatan resmi
dimulai di Pretoria bulan
Agustus 1958 dan para terdakwa berhasil meminta ketiga hakim—semuanya terlibat
dengan Partai Nasional yang berkuasa—diganti. Pada Agustus, satu tuduhan
dicabut, dan pada Oktober jaksa menarik dakwaannya dan mengirim rancangan baru
pada November yang berpendapat bahwa pemimpin ANC melakukan pengkhianatan
tinggi dengan menyerukan revolusi kekerasan, tuduhan yang ditolak mentah-mentah
oleh terdakwa.[90]
Pada April
1959, para militan Afrikanis yang tidak puas dengan pendekatan front bersatu
ANC mendirikan Pan-African Congress (PAC); teman Mandela Robert Sobukwe terpilih menjadi presiden, meski
Mandela menganggap kelompok ini "tidak dewasa".[91] Kedua
partai menyerukan kampanye anti-pas pada bulan Mei 1960, yaitu pembakaran pas
yang wajib dibawa ke mana-mana oleh penduduk Afrika. Salah satu demonstrasi PAc
dibubarkan polisi dan menewaskan 69 pengunjuk rasa dalam pembantaian
Sharpeville. Sebagai bentuk solidaritas, Mandela membakar pasnya ketika kerusuhan
pecah di seluruh Afrika Selatan, sehingga pemerintah memberlakukan darurat
militer.[92] Di bawah
kondisi Keadaan Darurat, Mandela dan sejumlah aktivis lain ditangkap pada
tanggal 30 Maret, dipenjara tanpa tuduhan di penjara lokal Pretoria yang kotor,
sementara ANC dan PAC dibubarkan pada bulan April.[93] Hal ini
membuat para pengacaranya sulit menghubungi mereka dan disepakati bahwa tim
terdakwa untuk Pengadilan Pengkhianatan harus mengundurkan diri sebagai bentuk
protes. Mewakili mereka di pengadilan, para terdakwa dibebaskan dari penjara
ketika keadaan darurat dicabut pada akhir Agustus.[94] Mandela
memanfaatkan waktu luangnya untuk mengadakan All-In African Conference dekat Pietermaritzburg, Natal, pada bulan Maret yang dihadiri 1.400 delegasi
anti-apartheid dan menyepakati protes mogok kerja untuk memperingati 31 Mei,
hari ketika Afrika Selatan menjadi negara republik.[95] Tanggal 29
Maret 1961, setelah pengadilan berlangsung selama enam tahun, para hakim
menjatuhkan vonis tidak bersalah yang lantas mempermalukan pemerintah.[96]
Ruang
beralas jerami di Liliesleaf Farm, tempat Mandela bersembunyi
Menyamar
sebagai sopir, Mandela berkeliling Afrika Selatan secara rahasia dan menyusun
struktur sel baru ANC dan mogok kerja massal pada 29 Mei. Dijuluki "Black
Pimpernel" di media—mengutip novel Emma Orczy tahun 1905 The Scarlet Pimpernel—polisi
mengeluarkan surat perintah penangkapannya.[97] Mandela
mengadakan beberapa rapat rahasia dengan wartawan, dan setelah pemerintah gagal
mencegah mogok tersebut, ia memperingatkan mereka bahwa banyak aktivis
anti-apartheid yang beralih ke aksi kekerasan melalui kelompok-kelompok seperti
Poqo PAC.[98] Ia yakin
bahwa ANC harus membentuk kelompok bersenjata untuk menyalurkan aksi-aksi
kekerasannya dan meyakinkan ketua ANC Albert Luthuli—yang secara moral menentang
kekerasan—dan kelompok aktivis sekutu tentang perlunya hal tersebut.[99]
Terinspirasi
oleh Gerakan 26 Juli Fidel Castro dalam Revolusi
Kuba, pada tahun
1961 Mandela ikut mendirikan Umkhonto we Sizwe
("Tombak Bangsa", disingkat MK) bersama Sisulu dan komunis Joe
Slovo. Ketika menjabat sebagai ketua grup militan ini, ia mendapatkan sejumlah
ide dari literatur ilegal tentang perang gerilya karya Mao dan Che Guevara. Setelah
terpisah secara resmi dari ANC, pada tahun-tahun berikutnya MK menjadi sayap
bersenjata dari grup tersebut.[100] Kebanyakan
anggota awal MK adalah komunis berkulit putih; setelah bersembunyi di flat
Wolfie Kodesh di Berea, Mandela pindah ke Liliesleaf Farm milik komunis di Rivonia dan bergabung dengan Raymond Mhlaba, Slovo, dan Bernstein, yang
sama-sama menyusun konstitusi MK.[101] Beroperasi
dengan struktur sel, MK sepakat melakukan sabotase demi memberi tekanan besar
terhadap pemerintah dengan korban kecil, mengebom instalasi militer, pembangkit
listrik, kabel telepon, dan jalur transportasi pada malam hari ketika tidak ada
warga sipil. Mandela mencatat bahwa jika taktik-taktik tersebut gagal, MK akan
beralih ke "peperangan gerilya dan terorisme."[102] Sesaat setelah
pemimpin ANC Luthuli mendapatkan Hadiah
Perdamaian Nobel, MK mengumumkan keberadaan mereka ke publik dan
rencana 57 pengeboman pada Hari Dingane (16 Desember) 1961, diikuti
serangan-serangan lain pada Malam Tahun Baru.[103]
ANC setuju
mengirim Mandela sebagai perwakilan mereka di pertemuan Pan-African Freedom
Movement for East, Central and Southern Africa (PAFMECSA) Addis Ababa, Ethiopia,
Februari 1962.[104] Bepergian
secara rahasia, Mandela bertemu Kaisar Haile Selassie I dan
berpidato setelah pidato Selassie di konferensi tersebut.[105] Pasca
konferensi, ia mengunjungi Kairo, Mesir, menyukai reformasi politik Presiden Gamal Abdel
Nasser, dan pergi
ke Tunis, Tunisia,
tempat Presiden Habib Bourguiba memberinya
dana £5000 untuk persenjataan. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Maroko,
Mali, Guinea, Sierra Leone, Liberia, dan Senegal, sambil menerima bantuan dana
dari Presiden Liberia William Tubman dan
Presiden Guinea Ahmed Sékou
Touré.[106] Di London,
Inggris, ia bertemu para aktivis anti-apartheid, wartawan, dan politikus kiri
ternama.[107] Di
Ethiopia, ia mengikuti kursus perang gerilya selama enam bulan, namun hanya
sempat menyelesaikan dua bulan saja sebelum dipanggil pulang ke Afrika Selatan.[108]
Pada 5
Agustus 1962, polisi menangkap Mandela dan Cecil Williams dekat Howick.[109] Ditahan di
penjara Marshall Square, Johannesburg, ia dituduh menghasut mogok buruh dan ke
luar negeri tanpa izin. Mewakili dirinya sendiri ditemani Slovo sebagai
penasihat hukum, Mandela hendak memanfaatkan pengadilan ini untuk menunjukkan
"penentangan moral ANC terhadap rasisme" sementara para pendukungnya
berdemo di luar pengadilan.[110] Setelah
dipindahkan ke Pretoria, tempat yang bisa dijangkau Winnie, Mandela mulai
mengambil studi korespondensi untuk mendapatkan gelar Bachelor of Laws (LLB) dari University
of London dari dalam selnya.[111] Sidang
dengar pendapatnya dimulai tanggal 15 Oktober, tetapi ia mengganggu jalannya
sidang dengan mengenakan kaross tradisional, menolak memanggil
saksi mata, dan mengganti permohonan keringanannya menjadi pidato politik.
Dinyatakan bersalah, Mandela dihukum penjara lima tahun; ketika ia keluar dari
ruang sidang, para pendukungnya menyanyikan Nkosi Sikelel iAfrika.[112]
"Dengan cara yang belum pernah kupahami
sebelumnya, aku menyadari peran yang kumainkan di pengadilan dan kemungkinan di
hadapanku selaku terdakwa. Aku adalah simbol keadilan di pengadilan para
penindas, perwakilan ide-ide agung kebebasan, keadilan, demokrasi di dalam
masyarakat yang memandang rendah nilai-nilai tersebut. Aku kemudian sadar dan
di sanalah aku dapat melanjutkan perjuangan meski berada di benteng
musuh."
Tanggal 11
Juli 1963, polisi menggeledah Lilielsleaf Farm, menahan semua orang di sana,
dan menyita berkas-berkas aktivitas MK, beberapa di antaranya menyebut nama
Mandela. Pengadilan Rivonia langsung diselenggarakan di Mahkamah Agung Pretoria pada
tanggal 9 Oktober. Mandela dan rekan-rekannya dituduh empat kali melakukan
sabotase dan konspirasi untuk menggulingkan pemerintah. Kepala jaksa penuntut Percy Yutar menuntut mereka dihukum mati.[114] Hakim Quartus de Wet menutup kasus jaksa dengan alasan
bukti tidak cukup, tetapi Yutar menyusun ulang tuntutannya dan mengajukan kasus
baru sejak Desember sampai Februari 1964 dengan melibatkan 173 saksi mata dan
ribuan dokumen dan foto.[115]
Kecuali James Kantor, yang dinyatakan tidak bersalah
atas semua tuduhan, Mandela dan terdakwa lainnya mengaku melakukan sabotase
namun menolak pernah sepakat melancarkan perang gerilya terhadap pemerintah.
Mereka menegaskan tujuan politik mereka di pengadilan ini; salah satu pidato
Mandela—terinspirasi pidato "History Will Absolve Me" oleh
Castro—diliput besar-besaran oleh pers meski ada sensor dari pemerintah.[116] Pengadilan
ini mendapat perhatian internasional; banyak pihak di seluruh dunia meminta
pembebasan para terdakwa, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan World Peace Council. University of London Union menyerukan
agar Mandela menjadi presiden dan misa malam untuknya diadakan di St. Paul's Cathedral, London.[117] Apa daya,
karena dianggap penyerobot komunis, pemerintah Afrika Selatan mengabaikan tuntutan-tuntutan
tersebut, dan pada 12 Juni 1964 de Wet menetapkan empat tuduhan kepada Mandela
dan dua terdakwa dan menjatuhkan vonis penjara seumur hidup, bukan hukuman
mati.[118]
Tambang batu
kapur di Pulau Robben
Mandela dan
terdakwa lainnya dipindahkan dari Pretoria ke penjara di Pulau Robben dan
dikurung di sana sampai 18 tahun selanjutnya.[119] Terisolasi
dari tahanan-tahanan non-politik di Section B, Mandela ditahan di sel beton
lembap berukuran 8 feet (2.4 m) kali 7 feet (2.1 m) yang dilengkapi
tikar jerami untuk tidur.[120] Selain
sering ditindas secara verbal dan fisik oleh penjaga berkulit putih, para
tahanan Pengadilan Rivonia menghabiskan waktu dengan memecah batu sampai
akhirnya dipindahtugaskan ke tambang batu kapur pada Januari 1965. Mandela
awalnya dilarang memakai kaca mata, sehingga sinar batu kapur tersebut merusak
penglihatannya secara permanen.[121] Malamnya,
ia belajar demi mendapatkan gelar LLB tetapi dilarang membaca surat kabar. Ia
sempat beberapa kali ditahan di kurungan soliter akibat menyelundupkan kliping
berita.[122] Dengan
level tahanan terendah, Kelas D, Mandela hanya boleh dijenguk sekali dan
mengirim sepucuk surat saja setiap enam bulan, walaupun semua surat yang keluar
masuk disensor besar-besaran.[123]
Para tahanan
politik bekerja dan mogok makan–cara
terakhir dianggap tidak efektif oleh Mandela—demi memperbaiki kondisi penjara
dan melihatnya sebagai dunia perjuangan anti-apartheid berukuran kecil.[124] Para
tahanan ANC mengangkat Mandela sebagai anggota "High Organ" bersama
Sisulu, Govan Mbeki, dan Raymond Mhlaba. Mandela juga terlibat dalam sebuah
grup yang mewakili semua tahanan politik di pulau itu, Ulundi; dari situ ia
membina hubungan dengan anggota PAC dan Yu Chi Chan Club.[125] Setelah
merintis "University of Robben Island," tempat para tahanan
berceramah tentang bidang yang dikuasainya, ia memperdebatkan topik-topik
seperti homoseksualitas dan politik dengan teman-temannya sampai terlibat
perdebatan panas soal politik dengan penganut Marxis seperti Mbeki dan Harry Gwala.[126] Meski rajin
menghadiri misa Minggu, Mandela juga mempelajari Islam.[127] Ia juga
belajar bahasa Afrikaans dengan
harapan mampu membuat penjaga penjara mengerti dan mendukung perjuangannya.[128] Sejumlah
pejabat menjenguk Mandela, termasuk perwakilan parlemen liberal Helen Suzman dari Partai Progresif yang
melanjutkan perjuangan Mandela di luar penjara.[129] Pada
September 1970, Mandela dijenguk AP Partai Buruh Britania Raya Dennis Healey.[130] Menteri
Kehakiman Afrika Selatan Jimmy Kruger berkunjung
bulan Desember 1974, namun Healey dan Mandela gagal menemuinya.[131] Ibu Mandela
berkunjung tahun 1968 dan meninggal tidak lama kemudian. Putra pertama Mandela,
Thembi, meninggal dunia akibat kecelakaan mobil setahun berikutnya; Mandela
dilarang menghadiri pemakaman ibu maupun putranya.[132] Istrinya
jarang menjenguk karena sering dipenjara akibat aktivitas politiknya, sementara
putri-putrinya pertama menjenguk Mandela bulan Desember 1975; Winnie keluar
penjara tahun 1977 namun dipaksa menetap di Brandfort, sehingga tidak bisa menjenguk
ayahnya.[133]
|
Sel
Mandela dan lapangan penjara di Pulau Robben
|
||
Sejak 1967,
kondisi penjara membaik, tahanan berkulit hitam diberikan celana panjang
(sebelumnya celana pendek), permainan boleh diselenggarakan, dan kualitas
makanan meningkat.[134] Pada 1969,
rencana kabur untuk Mandela disusun oleh Gordon Bruce, namun dibatalkan setelah
diketahui agen South African Bureau of State
Security (BOSS) yang ingin melihat Mandela ditembak saat kabur.[135] Tahun 1970,
Komandan Piet Badenhost mengambil alih kendali. Merasa penyiksaan fisik dan
mental terhadap tahanan meningkat, Mandela menyampaikan keluhannya ke
hakim-hakim yang berkunjung; Badenost akhirnya dipindahtugaskan.[136] Ia
digantikan oleh Komandan Willie Willemse yang membina hubungan baik dengan
Mandela dan mau memperbaiki standar penjara.[137] Pada 1975,
Mandela menjadi tahanan Kelas A,[138] sehingga ia
berhak mendapat jatah kunjungan dan surat yang lebih besar; ia menghubungi para
aktivis anti-apartheid seperti Mangosuthu Buthelezi dan Desmond Tutu.[139] Tahun itu
pula, ia mulai menulis otobiografi yang kemudian diselundupkan ke London, namun
tidak diterbitkan; otoritas penjara menemukan beberapa lembar halaman dan hak
belajar Mandela dihentikan selama empat tahun.[140] Ia lantas
menghabiskan waktunya dengan berkebun dan membaca sampai melanjutkan studi
LLB-nya tahun 1980.[141]
Pada akhir
1960-an, ketenaran Mandela dikalahkan oleh Steve Biko dan Black Consciousness Movement (BCM).
Menganggap ANC tidak efektif, BCM menyerukan aksi militan, tetapi setelah pemberontakan Soweto tahun 1976 banyak aktivis BCM yang
dipenjara di Pulau Robben.[142] Mandela
mencoba membangun hubungan dengan radikal-radikal muda ini, meski kritis
terhadap rasialisme dan ketidaksukaan mereka terhadap aktivis anti-apartheid
berkulit putih.[143]
Ketertarikan dunia internasional terhadap perjuangannya bermula bulan Juli
1978, bertepatan dengan ulang tahun Mandela ke-60.[144] Ia
mendapatkan gelar doktoral kehormatan di Lesotho, Nehru Prize for International
Understanding di India tahun 1970, dan Freedom of the City di Glasgow,
Skotlandia, tahun 1980.[145] Pada Maret
1980, slogan "Free Mandela!" dicetuskan oleh jurnalis Percy Qoboza dan mengawali kampanye
internasional yang memaksa Dewan
Keamanan PBB menuntut pembebasannya.[146] Walaupun
tekanan luar negeri sangat besar, pemerintah menolak dan bergantung pada sekutu
Perang
Dingin yang kuat
seperti Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dan Perdana
Menteri Britania Raya Margaret Thatcher; Thatcher
menganggap Mandela teroris komunis dan mendukung penekanan terhadap ANC.[147]
Bulan April
1982, Mandela ditransfer ke Penjara Pollsmoor di Tokai, Cape Town bersama sejumlah pemimpin senior
ANC Walter Sisulu, Andrew Mlangeni, Ahmed Kathrada, dan Raymond Mhlaba; mereka yakin
sedang diisolasi demi menghapus pengaruh mereka terhadap aktivis-aktivis muda.[148] Kondisi di
Pollsmoor lebih baik ketimbang Pulau Robben, tetapi Mandela merasa rindu
camaraderie dan pemandangan pulau tersebut.[149] Berteman
dengan kepala sipir Pollsmoor, Brigadir Munro, Mandela diizinkan membuat kebun atap,[150] serta
membaca besar-besar dan mendapat jatah 52 surat setahun.[151] Ia ditunjuk
sebagai pelindung gerakan multiras Front Demokratik Bersatu (UDF) yang
didirikan untuk melawan reformasi pemerintahan Presiden Afrika Selatan P.W. Botha. Pemerintah
Partai Nasional pimpinan Botha mengizinkan warga Kleurlinge dan India memilih
perwakilannya sendiri yang kelak mengatur pendidikan, kesehatan, dan perumahan,
namun orang Afrika kulit hitam dikecualikan dari sistem ini; layaknya Mandela,
UDF memandang hal ini sebagai upaya memecah gerakan anti-apartheid di sektor
ras.[152]
Patung
Mandela di Southbank, London, dipasang oleh Greater London Council yang dipimpin sosialis Ken
Livingstone tahun 1985
Kekerasan di
seluruh negeri meningkat. Banyak orang mengkhawatirkan pecah perang saudara. Di
bawah tekanan lobi internasional, bank-bank multinasional berhenti berinvestasi
di Afrika Selatan, mengakibatkan stagnasi ekonomi. Beberapa bank dan Thatcher
menuntut Botha membebaskan Mandela—pada puncak ketenaran internasionalnya—untuk
meredam situasi yang tidak stabil ini.[153] Walaupun
menganggap Mandela "Marxis besar" yang berbahaya,[154] pada
Februari 1985 Botha menawarkan pembebasannya dari penjara dengan syarat ia
"menolak kekerasan tanpa syarat sebagai senjata politik". Mandela
menolaknya dan merilis pernyataan melalui putrinya, Zindzi, bahwa
"Kebebasan apa yang sedang ditawarkan kepadaku jika organisasi rakyat
[ANC] tetap dilarang? Hanya orang bebas yang dapat bernegosiasi. Seorang
tahanan tidak boleh terlibat kesepakatan."[155]
Pada tahun
1985, Mandela menjalani operasi terhadap pembesaran kelenjar prostat sebelum
ditempatkan di sel soliter baru di lantai bawah.[156] Ia bertemu
"tujuh orang penting", yaitu delegasi internasional yang dikirimkan
untuk menegosiasikan penyelesaian kasus, tetapi pemerintah Botha menolak kerja
sama. Bulan Juni tahun itu, pemerintah menyatakan keadaan darurat dan
mengizinkan polisi meredam kerusuhan tersebut. Pemberontak anti-apartheid
melawan; ANC melakukan 231 serangan tahun 1836 dan 235 serangan tahun 1987.
Dengan pasukan darat dan paramiliter sayap kanan untuk melawan pemberontak,
pemerintah diam-diam mendanai gerakan nasionalis Zulu, Inkatha, untuk menyerang anggota-anggota
ANC yang lantas memperparah tindak kekerasan.[157] Mandela
meminta diskusi dengan Botha tapi ditolak, malah bertemu secara rahasia dengan
Menteri Kehakiman Kobie Coetsee pada 1987, lalu bertemu lagi
sebanyak 11 kali selama 3 tahun. Coetsee mengatur negosiasi antara Mandel
dengan satu tim beranggotakan empat pejabat pemerintah sejak Mei 1988; tim
sepakat membebaskan tahanan politik dan mengesahkan ANC dengan syarat mereka
tidak boleh lagi melancarkan aksi kekerasan, memutus hubungan dengan Partai
Komunis, dan tidak memaksakan kekuasaan mayoritas. Mandela menolak semuanya dan
menegaskan bahwa ANC hanya akan mengakhiri pemberontakan bersenjata jika
pemerintah menghentikan kekerasan.[158]
Ulang tahun
Mandela ke-70 bulan Januari 1988 menarik perhatian internasional. BBC mengadakan konser musik Nelson Mandela 70th Birthday Tribute di Wembley
Stadium, London.[159] Meskipun dijadikan
tokoh heroik di seluruh dunia, ia menghadapi masalah pribadi ketika para
pemimpin ANC memberitahunya bahwa Winnie menjadi ketua geng penjahat,
"Mandela United Football Club", yang bertanggung jawab atas
penyiksaan dan pembunuhan lawan—termasuk anak-anak—di Soweto. Walau banyak
orang memaksa Mandela menceraikannya, ia tetap setia sampai Winnie dinyatakan
bersalah oleh pengadilan.[160]
Mandela di
prangko peringatan Soviet tahun 1988
Sepulihnya
dari tuberkulosis yang
disebabkan kondisi sel yang lembap,[161] pada
Desember 1988 Mandela dipindahkan ke Penjara
Victor Verster dekat Paarl. Di sini, ia tinggal di rumah sipir yang lebih nyaman
dengan koki pribadi; Mandela memanfaatkannya untuk menyelesaikan studi LLB-nya.[162] Diizinkan
banyak pengunjung, Mandela melakukan komunikasi rahasia dengan pemimpin ANC
yang terasingkan, Oliver Tambo.[163] Tahun 1989,
Botha menderita stroke, tetap menjadi presiden tetapi mundur sebagai ketua
Partai Nasional dan digantikan oleh F. W. de Klerk yang
konservatif.[164] Tanpa
diduga, Botha mengundang Mandela minum teh pada Juli 1989; Mandela menyebutnya
undangan yang hangat.[165] Botha
digantikan sebagai presiden oleh de Klerk enam minggu kemudian; presiden baru
ini percaya bahwa apartheid tidak berkelanjutan dan membebaskan semua tahanan
ANC tanpa syarat kecuali Mandela.[166] Setelah
runtuhnya Tembok Berlin bulan
November 1989, de Klerk memanggil kabinetnya untuk membicarakan legalisasi ANC
dan pembebasan Mandela. Meski beberapa anggota kabinet sangat menentang
renccananya, de Klerk bertemu Mandela pada Desember untuk mendiskusikan situasi
ini, sebuah pertemuan yang dianggap bersahabat oleh kedua orang tersebut,
sebelum membebaskan Mandela tanpa syarat dan mengesahkan semua partai politik
yang sebelumnya dibubarkan pada 2 Februari 1990.[167]
Setelah
keluar dari Victor Verster pada 11 Februari, Mandela menggandeng tangan Winnie
di hadapan kerumunan dan pers; acara ini disiarkan langsung di seluruh dunia.[168] Di Balai Kota Cape Town, ia menyampaikan pidato yang menyatakan
komitmennya terhadap perdamaian dan rekonsiliasi dengan kaum minoritas kulit
putih, tetapi menegaskan bahwa pemberontakan bersenjata ANC belum berakhir dan
akan terus berlanjut sebagai "aksi defensif murni terhadap kekejaman
apartheid". Ia berharap pemerintah akan menyepakati negosiasi sehingga
"pemberontakan bersenjata tidak diperlukan lagi" dan memaksa bahwa
fokus utamanya adalah membawa perdamaian ke kalangan mayoritas kulit hitam dan
memberi mereka hak suara di pemilu nasional dan lokal.[169] Ketika
tinggal di rumah Desmond Tutu beberapa
hari selanjutnya, Mandela bertemu teman-teman, aktivis, dan pers, dan berpidato
di hadapan 100.000 orang di Soccer City,
Johannesburg.[170]
Shell House
di Johannesburg yang menjadi kantor pusat ANC pada 1991
Mandela
melanjutkan tur Afrikanya, bertemu banyak pendukung dan politikus di Zambia,
Zimbabwe, Namibia, Libya, dan Aljazair, kemudian ke Swedia untuk reuni dengan
Tambo, lalu London, tempat ia tampil di konser Nelson Mandela: An International
Tribute for a Free South Africa di Wembley Stadium.[171] Ketika
mendorong negara-negara asing untuk mendukung sanksi terhadap pemerintah
apartheid, di Perancis ia disambut Presiden François
Mitterrand, di Kota Vatikan ia disambut Paus Yohanes
Paulus II, dan di Inggris ia bertemu Margaret Thatcher. Di Amerika
Serikat, ia bertemu Presiden George H.W. Bush, berpidato
di Kongres, dan berkunjung ke delapan kota; ia populer di kalangan masyarakat
Afrika-Amerika.[172] Di Kuba, ia
bertemu Presiden Fidel Castro yang sudah lama digemarinya; keduanya bersahabat.[173] Di Asia ia
bertemu Presiden R. Venkataraman di India,
Presiden Suharto di
Indonesia dan Perdana Menteri Mahathir Mohamad di
Malaysia, sebelum mengunjungi Australia dan Jepang. Ia justru tidak mengunjungi
Uni Soviet, pendukung lama ANC.[174]
Pada Mei
1990, Mandela memimpin delegasi multirasial ANC dalam negosiasi pendahuluan
dengan delegasi 11 pria Afrikaner pemerintah. Mandela membuat mereka terkesan
dengan diskusinya seputar sejarah Afrikaner, dan negosiasi ini berujung pada
Groot Schuur Minute, yaitu pemeirntah mencabut keadaan darurat. Bulan Agustus,
Mandela—mengakui kekurangan militer ANC yang sangat besar—menawarkan gencatan
senjata, Pretoria Minute, yang karena itulah ia dikritik habis-habisan oleh
aktivis MK.[175] Ia
menghabiskan banyak waktu untuk menyatukan dan membangun ANC, tampil di
konferensi Johannesburg bulan Desember yang dihadiri 1.600 delegasi, kebanyakan
menganggap Mandela lebih moderat daripada yang diharapkan.[176] Pada
konferensi nasional ANC Juli 1991 di Durban, Mandela mengakui
kekurangan-kekurangan partai ini mengumumkan rencananya untuk membangun
"satuan tugas yang kuat dan kokoh" agar memperoleh kekuasaan
mayoritas. Di konferensi tersebut, ia diangkat sebagai Presiden ANC,
menggantikan Tambo yang sakit, dan eksekutif nasional multigender dan multiras
dipilih bersama-sama.[177]
Mandela
diberikan kantor di markas ANC yang baru dibeli di Shell House, Johannesburg pusat, dan pindah
bersama Winnie ke rumahnya yang besar di Soweto.[178] Pernikahan
mereka semakin renggang setelah ia tahu perselingkuhan Winnie
dengan Dali Mpofu, tetapi ia mendukungnya saat Winnie
diadili dengan tuduhan penculikan dan penyerangan. Ia mendapatkan dana untuk
pembelaan Winnie dari International Defence and Aid dan
pemimpin Libya Muammar Gaddafi, namun pada
Juni 1991 Winnie dinyatakan bersalah dan dihukum penjara enam tahun, dikurangi
menjadi dua di pengadilan banding. Tanggal 13 April 1992, Mandela mengumumkan
perpisahannya dengan Winnie, sedangkan ANC memaksa Winnie mengundurkan diri
dari eksekutif nasional karena menyalahgunakan dana ANC; Mandela pindah ke
pinggiran Johannesburg yang didominasi kulit putih, Houghton.[179] Reputasi
Mandela semakin hancur akibat peningkatan kekerasan "hitam-ke-hitam",
terutama antara pendukung ANC dan Inkatha di KwaZulu-Natal yang
menewaskan ribuan orang. Mandela bertemu pemimpin Inkatha Buthelezi, tetapi ANC
mencegah perundingan lebih lanjut mengenai masalah ini. Mandela mengakui bahwa
ada "pasukan ketiga" di
dalam dinas intelijen negara yang mengompori "pembantaian rakyat" dan
secara terbuka menyalahkan de Klerk—yang semakin tidak ia percayai—atas pembantaian Sebokeng.[180] Pada bulan
September 1991, konferensi perdamaian nasional diadakan di Johannesburg.
Mandela, Buthelezi, dan de Klerk menandatangani perjanjian damai, tetapi
kekerasan tetap berlanjut.[181]
Convention for a Democratic South
Africa (CODESA)
diselenggarakan bulan Desember 1991 di Johannesburg World Trade Center,
dihadiri oleh 228 delegasi dari 19 partai politik. Meski Cyril Ramaphosa memimpin delegasi ANC, Mandela
masih menjadi tokoh penting, dan setelah de Klerk menggunakan pidato penutupnya
untuk mengutuk kekerasan ANC, ia naik panggung dan menyebut de Klerk
"pemimpin rezim minoritas yang tidak sah dan terdiskreditkan". Karena
didominasi Partai Nasional dan ANC, tidak banyak perundingan yang tercapai.[182] CODESA 2
diadakan bulan Mei 1992. De Klerk memaksa Afrika Selatan pasca-apartheid harus
memakai sistem
federal dengan rotasi presiden untuk menjamin keselamatan etnis minoritas; Mandela
menolaknya dan menuntut sistem kesatuan yang
dikuasai kaum mayoritas.[183] Setelah pembantaian Boipatong oleh militan Inkatha yang dibantu
pemerintah terhadap aktivis-aktivis ANC, Mandela membatalkan negosiasi tersebut
sebelum menghadiri pertemuan Organisation of African Unity di Senegal.
Di sana ia meminta agar Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang istimewa dan pasukan penjaga perdamaian PBB diterjunkan
di Afrika Selatan untuk mencegah "terorisme negara". PBB
langsung mengirim utusan khusus Cyrus Vance ke negara ini untuk membantu proses
negosiasi.[184] Menyerukan
aksi massal dalam negeri, pada bulan Agustus ANC mengadakan mogok terbesar
dalam sejarah Afrika Selatan dan para pendukungnya memadati jalanan Pretoria.[185]
De Klerk dan
Mandela bersalaman di World Economic Forum, 1992
Pasca pembantaian Bisho, yaitu penembakan oleh Ciskei Defence Force terhadap 28 pendukung ANC dan 1
tentara saat unjuk rasa, Mandela menyadari bahwa aksi massal berujung pada
kekerasan lebih lanjut dan melanjutkan negosiasi pada bulan September. Ia
menyetujuinya dengan syarat semua tahanan politik dibebaskan, senjata tradisional
Zulu dilarang, dan hostel-hostel Zulu dipagari, dua syarat terakhir bertujuan
mencegah serangan Inkatha selanjutnya; karena ditekan terus-menerus, de Klerk
mau tidak mau setuju. Negosiasi ini menyepakati pemilu multiras akan
diselenggarakan, yang kemudian membentuk pemerintahan koalisi persatuan
nasional selama lima tahun dan majelis konstitusional yang memberi Partai Nasional
pengaruh besar. ANC juga setuju melindungi pekerjaan para pegawai negeri kulit
putih; konsesi semacam itu dikritik habis-habisan di dalam negeri.[186] Keduanya
menyetujui konstitusi interim, menjamin
pemisahan kekuasaan, mendirikan pengadilan konstitusi, dan undang-undang hak asasi manusia bergaya
Amerika Serikat. Negosiasi ini juga membagi negara ini menjadi sembilan
provinsi, masing-masing dengan pemimpin dan pelayanan sipilnya sendiri,
kesepakatan di antara keinginan federalisme de Klerk
dan pemerintah kesatuan Mandela.[187]
Proses
demokratis ini terancam oleh Concerned South Africans Group (COSAG), aliansi
partai-partai Afrikaner sayap kanan dan kelompok separatis kulit hitam seperti
Inkatha; pada Juni 1993, kelompok supremasis kulit putih Afrikaner Weerstandsbeweging (AWB) menyerang Kempton Park World Trade
Centre.[188] Pasca
pembunuhan ketua ANC Chris Hani, Mandela berpidato untuk meredam
kerusuhan, sesaat setelah muncul di pemakaman massal di Soweto mewakili Tambo
yang meninggal akibat stroke.[189] Bulan Juli
1993, Mandela dan de Klerk sama-sama berkunjung ke Amerika Serikat, bertemu
Presiden Bill Clinton secara
terpisah dan masing-masing mendapatkan Liberty Medal.[190] Tidak lama
kemudian, mereka sama-sama mendapatkan Hadiah Perdamaian Nobel di Norwegia.[191] Dipengaruhi
ketua ANC yang muda, Thabo Mbeki, Mandela
mulai bertemu tokoh-tokoh bisnis besar dan membungkam dukungannya untuk
nasionalisasi, khawatir ia akan menakut-nakuti investor asing yang sangat
diperlukan. Meski dikritisi anggota-anggota ANC yang sosialis, ia didorong
memboyong perusahaan swasta oleh anggota partai Komunis Cina dan Vietnam di World
Economic Forum Januari 1992 di Swiss.[192] Mandela
juga tampil kameo sebagai guru sekolah yang membacakan salah satu pidato Malcolm X di adegan
terakhir film Malcolm X (1992).[193]
Mandela
memberikan suara pada pemilu 1994.
Dengan
penetapan pemilu pada tanggal 27 April 1994, ANC mulai berkampanye, membuka 100
posko pemilu, dan mempekerjakan penasihat Stanley Greenberg. Greenberg merancang pondasi
People's Forums di seluruh negeri, sehingga Mandela bisa tampil; meski
merupakan pembicara publik yang buruk, Greenberg adalah tokoh terkenal dengan
status tinggi di kalangan penduduk kulit hitam Afrika Selatan.[194] ANC
mengampanyekan Reconstruction and Development
Programme (RDP), yaitu program pembangunan satu juta rumah dalam lima tahun,
penciptaan pendidikan gratis universal, dan perluasan akses air bersih dan
listrik. Slogan partai ini adalah "a better life for all"
(kehidupan yang lebih baik untuk semua), walaupun tidak dijelaskan dari mana
pendanaannya.[195] Selain Weekly Mail dan New Nation, pers Afrika Selatan menentang
pencalonan Mandela, mengkhawatirkan konflik etnis, dan mendukung Partai
Nasional atau Partai Demokrat.[196] Mandela
menghabiskan banyak waktu untuk menggalang dana untuk ANC, keliling Amerika
Utara, Eropa, dan Asia untuk bertemu donatur-donatur kaya, termasuk mantan
pendukung rezim apartheid.[197] Ia juga
mengusulkan pengurangan batas usia memberi suara dari 18 tahun menjadi 14;
setelah ditolak ANC, kebijakan ini menjadi bahan tertawaan.[198]
Khawatir
bahwa COSAG akan mengacaukan pemilu, terutama pasca Pertempuran Bop dan Pembantaian Shell House—masing-masing
kekerasan yang melibatkan AWB dan Inkatha—Mandela bertemu beberapa politikus dan
jenderal Afrikaner, termasuk P.W. Botha, Pik Botha, dan Constand Viljoen, membujuk mereka untuk ikut sistem
demokrasi, dan de Klerk meyakinkan Buthelezi dari Inkatha untuk ikut pemilu
alih-alih melancarkan perang separatis.[199] Selaku
ketua kedua partai besar tersebut, de Klerk dan Mandela tampil dalam acara
debat televisi; meskipun de Kler dianggap luas sebagai pembicara terbaik di
acara ini, tawaran Mandela untuk bersalaman mengejutkannya, sehingga banyak
komentator menganggap Mandela-lah yang menang.[200] Pemilihan
umum berlangsung dengan sedikit aksi kekerasan, termasuk bom mobil sel AWB yang
menewaskan 20 orang. Mandela memberi suara di Ohlange High School di Durban, dan meski menjadi
Presiden terpilih, ia mengaku secara terbuka bahwa pemilu ini penuh penipuan
dan sabotase.[201] Dengan 62%
suara nasional, ANC tinggal sedikit lagi mencapai dua pertiga mayoritas yang
diperlukan untuk mengubah konstitusi. ANC juga menang di 7 provinsi, sementara
masing-masing Inkatha dan Partai Nasional 1 provinsi.[202]
Pelantikan
Mandela dilangsungkan di Pretoria pada tanggal 10 Mei 1994, disiarkan ke satu
miliar penonton di seluruh dunia. Acara ini dihadiri 4.000 tamu, termasuk
pemimpin dunia dari berbagai latar belakang.[203] Selain Presiden Afrika
Selatan berkulit hitam pertama, Mandela juga menjadi kepala Pemerintah Persatuan Nasional yang
didominasi ANC—yang justru tidak punya pengalaman di pemerintahan—tetapi juga
melibatkan perwakilan Partai Nasional dan Inkatha. Sesuai perjanjian
sebelumnya, de Klerk menjadi Wakil Presiden pertama, sedangkan Thabo Mbeki sebagai wakil pada
masa jabatan kedua.[204] Meski Mbeki
bukan pilihan pertamanya untuk jabatan ini, Mandela menjadi sangat bergantung
padanya sepanjang masa pemerintahannya dan mengizinkan Mbeki menyusun rincian
kebijakan.[205] Setelah
pindah ke kantor presiden di Tuynhuys di Cape Town, Mandela mengizinkan
de Klerk tetap di kediaman kepresidenan di puri Groote Schuur, bukan di puri Westbrooke yang
berganti nama menjadi "Genadendal" yang berarti "Lembah
Pertolongan" dalam bahasa Afrikaans.[206] Selain
mempertahankan rumahnya di Houghton, ia juga membangun rumah di kampung
halamannya, Qunu. Ia sering berkunjung ke Qunu, jalan-jalan di sana, bertemu
warga setempat, dan memutuskan sengketa suku.[207]
Mandela
pindah ke Kantor Kepresidenan Tuynhuys, Cape Town.
Pada usia 76
tahun, ia menghadapi berbagai penyakit, dan walaupun memiliki cukup tenaga, ia
merasa terisolasi dan ditinggal sendirian.[208] Ia sering
menghibur selebritis, seperti Michael Jackson, Whoopi
Goldberg, dan Spice Girls. Ia juga
berteman dengan sejumlah pebisnis kaya seperti Harry Oppenheimer dari Anglo-American, dan ratu Britania Raya Elizabeth II dalam kunjungan kenegaraannya ke Afrika
Selatan bulan Maret 1995, sehingga Mandela dihujani kritik dari penganut
anti-kapitalis di ANC.[209] Meski
orang-orang sekitarnya hidup berkecukupan, Mandela hidup sederhana dan
menyumbangkan sepertiga gaji tahunannya sebesar 552.000 rand ke Nelson Mandela Children's Fund yang ia
dirikan tahun 1995.[210] Walaupun
berbicara lantang mendukung kebebasan pers dan
berteman dengan banyak jurnalis, Mandela kritis terhadap sebagian besar media
di negaranya karena dimiliki dan dioperasikan penduduk kulit putih kelas
menengah dan yakin mereka terlalu fokus menakut-nakuti penonton dengan berita
kejahatan.[211] Setelah
duduk di kursi presiden, Mandela ganti baju beberapa kali sehari dan salah satu
merek dagang Mandela adalah kemeja batiknya yang dikenal sebagai "kemeja
Madiba". Ia
selalu memakainya bahkan dalam suasana formal.[212]
Bulan
Desember 1994, otobiografi Mandela, Long Walk to Freedom, akhirnya
diterbitkan.[213] Pada akhir
1994, ia menghadiri konferensi ANC ke-49 di Bloemfontein. Di sana
Eksekutif Nasional yang lebih militan dipilih, termasuk di antaranya Winnie
Mandela; meski Winnie tertarik rujuk, Nelson memulai proses perceraian pada
Agustus 1995.[214] Tahun 1995,
ia menjalin hubungan dengan Graça Machel, aktivis
politik Mozambik yang 27 lebih muda dan merupakan janda mantan presiden Samora
Machel. Mereka
pertama bertemu bulan Juli 1990 ketika Machel masih berduka, namun persahabatan
mereka berkembang menjadi pasangan kekasih. Machel sering menemani Mandela
dalam kunjungannya ke luar negeri. Ia menolak lamaran pernikahan pertama
Mandela karena ingin lebih bebas dan bisa membagi waktunya antara Mozambik dan
Johannesburg.[215]
Memimpin
transisi dari kekuasaan minoritas apartheid ke demokrasi multikultural, Mandela
melihat rekonsiliasi nasional sebagai tugas utama pemerintahannya.[216] Setelah
melihat negara-negara Afrika pasca-kolonial hancur akibat ditinggalkan elit
kulit putih, Mandela berusaha menjamin populasi kulit putih Afrika Selatan
bahwa mereka dilindungi dan diwakili di "Bangsa Pelangi" ini.[217] Mandela
berupaya menciptakan koalisi seluas mungkin di kabinetnya. De Klerk menjadi
Wakil Presiden pertama, sedangkan pejabat-pejabat Partai Nasional lainnya
menjadi menteri Pertanian, Energi, Lingkungan, dan Mineral dan Energi, dan
Buthelezi menjadi Menteri Dalam Negeri.[218] Jabatan
kabinet yang lain diduduki anggota ANC, kebanyakan di antaranya—seperti Joe Modise, Alfred Nzo, Joe Slovo, Mac Maharaj, dan Dullah Omar—adalah teman seperjuangan, meski
yang lainnya seperti Tito Mboweni dan Jeff Radebe justru jauh lebih muda.[219] Hubungan
Mandela dengan de Klerk renggang; Mandela menduga de Klerk sengaja provokatif,
sementara de Klerk merasa ia sengaja dipermalukan oleh presiden. Pada Januari
1995, Mandela mengkritik habis-habisan de Klerk karena memberikan amnesti
kepada 3.500 polisi tepat sebelum pemilu, dan kemudian mengkritiknya karena
melindungi mantan Menteri Pertahanan Magnus Malan yang dituduh melakukan pembunuhan.[220]
Bendera
Afrika Selatan, diadopsi April 1994
Mandela
secara pribadi bertemu tokoh-tokoh senior rezim apartheid, termasuk janda Hendrik Verwoerd Betsie Schoombie dan pengacara
Percy Yutar; menekankan pemberian maaf dan rekonsiliasi pribadinya, ia
mengumumkan bahwa "orang-orang berani tidak takut memberi maaf demi
perdamaian."[221] Ia
mendorong penduduk kulit hitam Afrika Selatan mendukung tim nasional rugbi yang
sebelumnya dibenci, Springboks, saat
Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugbi 1995. Setelah Springboks memenangkan
final melawan Selandia Baru, Mandela mempersembahkan trofinya ke kapten Francois Pienaar, seorang Afrikaner, sambil
mengenakan baju Sprinboks dengan nomor 6 miliki Pienaar di belakangnya. Hal ini
dipandang luas sebagai loncatan besar rekonsiliasi penduduk kulit putih dan
hitam Afrika Selatan; seperti yang dikatakan de Klerk, "Mandela
memenangkan hati jutaan penggemar rugbi berkulit putih."[222] Upaya
rekonsiliasi Mandela meredam rasa takut masyarakat kulit putih, namun juga
mendapat kritik dari kaum militan kulit hitam. Mantan istrinya, Winnie, menuduh
ANC lebih tertarik memuaskan orang kulit putih ketimbang membantu orang kulit
hitam.[223]
Kontroversialnya
lagi, Mandela terlibat dalam pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk
menyelidiki kejahatan-kejahatan era apartheid oleh pemerintah dan ANC dan
menunjuk Desmond Tutu sebagai ketuanya. Untuk mencegah munculnya martir, Komisi
ini memberikan amnesti individu dengan imbalan kesaksian kejahatan yang
dilakukan selama era apartheid. Didirikan bulan Februari 1996, Komisi ini
mengadakan dengar pendapat selama dua tahun yang merincikan kasus pemerkosaan,
penyiksaan, pengeboman, dan pembunuhan, sebelum menerbitkan laporan terakhirnya
pada Oktober 1998. Baik de Klerk dan Mbeki menuntut sebagian laporan tersebut
dihapus, tetapi hanya tuntutan de Klerk yang dipenuhi.[224] Mandela
memuji kerja Komisi sambil menyatakan mereka "telah membantu kita beralih
dari masa lalu untuk berkonsentrasi di masa kini dan masa depan".[225]
Mandela
mengunjungi Brasil tahun 1998
Pemerintahan
Mandela mewarisi negara dengan kesenjangan kekayaan dan jasa yang sangat besar
di kalangan masyarakat kulit putih dan hitam. Dengan populasi 40 juta orang,
kurang lebih 23 juta di antaranya tidak terhubung dengan listrik atau sanitasi
memadai, 12 juta orang tidak punya suplai air bersih, dan 2 juta anak tidak
bersekolah dan sepertiga penduduknya buta huruf. 33% rakyat menganggur dan
nyaris separuh populasi hidup di bawah garis kemiskinan.[226] Cadangan
keuangan pemerintah hampir habis dan seperlima anggaran nasional dihabiskan
untuk bayar utang, artinya cakupan Program Rekonstruksi dan Pembangunan (RDP)
yang dijanjikan harus disusutkan dan tidak ada nasionalisasi atau penciptaan
lapangan kerja.[227] Pemerintah
malahan mengadopsi kebijakan ekonomi liberal untuk mempromosikan investasi
asing, mengikuti "konsensus
Washington" yang dikeluarkan Bank Dunia dan International Monetary Fund.[228]
Di bawah
pemerintahan Mandela, anggaran kesejahteraan naik 13% tahun 1996/97, 13% tahun
1997/98, dan 7% tahun 1998/99.[229] Pemerintah
memperkenalkan kesetaraan bantuan untuk masyarakat, termasuk bantuan orang
cacat, bantuan perawatan anak, serta dana pensiun lansia, yang sebelumnya diberi
tingkatan-tingkatan untuk berbagai kelompok ras Afrika Selatan.[229] Tahun 1994,
layanan kesehatan gratis diberikan untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun dan
ibu hamil, suatu peraturan yang cakupannya diperluas sampai semua pengguna
layanan kesehatan sektor publik tingkat dasar pada tahun 1996.[230] Pada pemilu
1999, ANC mengatakan bahwa karena kebijakan mereka, 3 juta orang terhubung ke
telepon, 1,5 juta anak mengenyam pendidikan, 500 klinik diperbarui atau
dibangun, 2 juta orang terhubung ke listrik, akses air bersih diperluas samapai
3 juta orang, dan 750.000 rumah dibangun dengan total penghuni nyaris 3 juta
orang.[231]
Undang-Undang
Pengembalian Lahan 1994 memungkinkan masyarakat yang kehilangan propertinya
akibat Undang-Undang Tanah Prbumi 1913 mengklaim
balik tanah mereka. Puluhan ribu orang berhasil menyelesaikan klaim tanah mereka.[232] UU
Reformasi Lahan 3 tahun 1996 melindungi hak-hak penyewa pekerja yang tinggal
dan menanam hasil bumi atau beternak di peternakan. Undang-undang ini menjamin
penyewa tidak dapat diusir tanpa perintah pengadilan atau usianya melebihi 65
tahun.[233] UU
Pengembangan Kemampuan 1998 menetapkan serangkaian mekanisme untuk mendanai dan
mempromosikan pengembangan kemampuan di tempat kerja.[234] UU Hubungan
Tenaga Kerja 1995 mempromosikan demokrasi di tempat kerja, perundingan bersama
secara tertib, serta penyelesaian efektif sengketa tenaga kerja.[235] UU
Persyaratan Dasar Pekerjaan 1997 memperbaiki mekanisme kerja serta memperluas
"cakupan" hak ke semua pekerja,[235] sedangkan
UU Kesetaraan Pekerjaan 1998 disahkan untuk mengakhiri diskriminasi tidak adil
dan menjamin implementasi tindakan yang disetujui di tempat kerja.[235]
Sayangnya
banyak masalah di dalam negeri. Sejumlah kritikus seperti Edwin Cameron menuduh pemerintah Mandela berbuat
sedikit untuk meredam wabah HIV/AIDS di negara itu; tahun 1999, 10% penduduk
Afrika Selatan dinyatakan positif mengidap HIV. Mandela kelak mengakui bahwa ia
secara pribadi mengabaikan masalah ini dan menyutuh Mbeki menanganinya.[236] Mandela
juga mendapat kritik karena gagal memberantas kejahatan, karena itu pula Afrika
Selatan memiliki salah satu tingkat kejahatan tertinggi di dunia; ini juga
alasan utama yang dikatakan 750.000 orang kulit putih yang beremigrasi pada
akhir 1990-an.[237]
Pemerintahan Mandela dibanjiri skandal korupsi dan Mandela sendiri dianggap
"lembek" terhadap korupsi dan kerakusan.[238]
Mandela
bersama Presiden AS Bill Clinton. Meski
secara terbuka mengkritik Clinton, Mandela menyukai Clinton, dan secara pribadi
mendukungnya saat sidang pemakzulannya.[239]
Mencontoh
Afrika Selatan, Mandela mendorong negara-negara lain menyelesaikan konflik
melalui diplomasi dan rekonsiliasi.[240] Ia
mengulang seruan Mbeki untuk "Renaisans Afrika" dan sangat memedulikan
masalah di benua ini. Ia mengambil pendekatan diplomatik lembut untuk menurunkan junta militer Sani Abacha di Nigeria
namun justru menjadi tokoh utama yang menuntut sanksi ketika rezim Abacha
terus-terusan melanggar hak asasi manusia.[241] Tahun 1996,
ia ditunjuk sebagai Ketua Southern African Development
Community (SADC) dan memulai negosiasi pengakhiran Perang Kongo
Pertama di Zaire yang
kemudian terbukti gagal.[242] Dalam operasi militer pasca-apartheid
pertama Afrika Selatan, Mandela memerintahkan tentara masuk Lesotho pada
September 1998 untuk melindungi pemerintahan Perdana Menteri Pakalitha
Mosisili setelah sengketa pemilu memicu pemberontakan oposisi.[243]
Pada
September 1998, Mandela ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Gerakan
Non-Blok dan mengadakan konferensi tahunannya di Durban. Ia memanfaatkan acara ini
untuk mengkritik "kepentingan sempit dan chauvinistik" pemerintah
Israel karena menghambat negosiasi untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina dan memaksa India dan Pakistan berunding untuk
mengakhiri konflik Kashmir, dan karena
itu pula ia dikritik oleh Israel dan India.[244]
Terinspirasi oleh ledakan ekonomi di kawasan ini, Mandela mempererat hubungan
ekonominya dengan Asia Timur, terutama dengan Malaysia, walaupun terganggu oleh
krisis keuangan Asia 1997.[245] Ia memicu
kontroversi karena berteman dekat dengan Presiden Indonesia Suharto, yang
rezimnya bertanggung jawab atas sejumlah besar pelanggaran hak asasi manusia.
Mandela secara pribadi membujuk Suharto agar menarik pasukannya dari Timor
Timur.[246]
Mandela
menghadapi kritik serupa dari dunia barat karena berteman dengan Fidel Castro
dan Muammar Gaddafi. Castro berkunjung ke Afrika Selatan tahun 1998 dan
disambut masyarakat, sedangkan Mandela bertemu Gaddafi di Libya untuk
menganugerahkan Order of Good Hope kepadanya.[247] Saat
pemerintah dan media barat mengkritik kunjungan-kunjungan tersebut, Mandela
menyebut kritik tersebut bernada rasis.[248] Mandela
berharap bisa menyelesaikan masalah yang tak kunjung uai antara Libya dan
Amerika Serikat dan Britania seputar pengadilan dua warga Libya, Abdelbaset al-Megrahi adn Lamin Khalifah Fhimah, yang diadili bulan November 1991
dan dituduh menyabotase Pan Am
Penerbangan 103. Mandela mengusulkan mereka diadili di negara ketiga
yang disetujui semua pihak terlibat. Mengikuti hukum Skotlandia, pengadilan ini diselenggarakan di Camp Zeist di Belanda pada April 1999 dan
menyatakan salah satunya bersalah.[249]
Konstitusi Afrika Selatan yang baru
disetujui parlemen pada bulan Mei 1996. Konstitusi ini menetapkan serangkaian
institusi untuk mengawasi kewenangan politik dan administratif di dalam bingkai
demokrasi konstitusional.[250] De Klerk
tetap saja menentang penerapan konstitusi ini dan menarik diri dari pemerintah
koalisi sebagai bentuk protes.[251] ANC
mengambil alih jabatan-jabatan kabinet yang sebelumnya dipegang Partai
Nasional; Mbeki menjadi Wakil Presiden tunggal.[252] Andai suatu
hari Mandela bersama Mbkei berada di luar negeri, Buthelezi ditunjuk sebagai
"Presiden Sementara". Ini menandakan adanya perbaikan hubungan antara
dirinya dengan Mandela.[253]
Mandela
mengundurkan diri sebagai Presiden ANC pada konferensi Desember 1997, dan meski
berharap Ramaphosa akan menggantikannya, ANC memilih Mbeki sebagai presiden;
Mandela mengaku bahwa saat itu Mbeki telah menjadi "Presiden negara secara
de facto". Menggantikan Mbeki sebagai Wakil Presiden, Mandela dan
Eksekutif mendukung pencalonan Jacob Zuma, seorang
Zulu yang sempat dipenjara di Pulau Robben, tetapi ia ditantang Winnie, yang
retorika populisnya memberinya banyak pengikut di dalam partai; Zuma mengalahkannya
dengan telak di pemilu.[254]
Hubungan
Mandela dengan Machel semakin intensif; pada Februari 1998 ia menyatakan bahwa
"Aku jatuh cinta dengan seorang wanita yang luar biasa", dan di bawah
tekanan sahabatnya Desmond Tutu, yang memaksanya menjadi panutan bagi para
pemuda, ia mengadakan pernikahan pada ulang tahun Mandela ke-80 bulan Juli.[255] Keesokan
harinya, ia mengadakan pesta besar yang dihadiri beberapa tamu asing.[256] Mandela
tidak pernah berencana mencalonkan diri untuk kedua kalinya dan menyampaikan pidato
perpisahan pada 29 Maret 1999. Setelah itu ia pensiun.[257]
Pensiun
bulan Juni 1999, Mandela memilih kehidupan keluarga yang sunyi, terbagi antara
Johannesburg dan Qunu. Ia hendak menulis sekuel otobiografinya yang berjudul The
Presidential Years, tetapi ditinggalkan begitu saja sebelum diterbitkan.[258] Karena
menganggap hidup sendiri sulit, ia beralih ke kehidupan publik yang sibuk
dengan program harian penuh tugas, bertemu pemimpin dunia dan selebriti, dan di
Johannesburg bekerja dengan Nelson Mandela Foundation yang
didirikan tahun 1999 untuk berfokus pada pemberantasan HIV/AIDS, pembangunan
desa, dan pembangunan sekolah.[259] Walaupun
dihujani kritik karena gagal melakukan hal yang sepantasnya untuk mencegah
wabah tersebut selama masa pemerintahannya, ia menghabiskan banyak waktunya
untuk masalah ini setelah pensiun dan menyebutnya "perang" yang
menewaskan lebih dari "perang-perang sebelumnya". Ia juga meminta
pemerintahan Mbeki menjamin warga Afrika Selatan yang terjangkit HIV+
mendapatkan retrovirus.[260] Tahun 2000,
turnamen golf amal Nelson Mandela Invitational diadakan
dan dibawakan oleh Gary Player.[261] Mandela
berhasil sembuh dari kanker prostat pada bulan
Juli 2001.[262]
Pada tahun
2002, Mandela meresmikan Nelson Mandela Annual Lecture, dan Mandela Rhodes Foundation dibentuk
tahun 2003 di Rhodes House, University of
Oxford, untuk
menyediakan beasiswa pascasarjana kepada mahasiswa-mahasiswa Afrika.
Proyek-proyek ini diikuti oleh Nelson Mandela Centre of Memory dan kampanye 46664 melawan HIV/AIDS.[263] Ia
menyampaikan pidato penutup di XIII International AIDS Conference di Durban
tahun 2000,[264] dan pada
2004, ia berbicara di XV International AIDS Conference di Bangkok, Thailand.[265]
Secara terbuka,
Mandela semakin lantang mengkritik negara-negara Barat. Ia sangat menentang intevensi NATO di Kosovo tahun 1999
dan menyebutnya upaya bangsa-bangsa kuat dunia untuk menjadi polisi dunia.[266] Pada tahun
2003, ia menentang rencana Amerika Serikat dan Britania Raya melancarkan perang di Irak, menyebutnya "tragedi"
dan mengecam Presiden AS George W. Bush dan Perdana
Menteri Britania Tony Blair karena
meremehkan PBB. Ia umumnya lebih menyerang AS, menegaskan bahwa negara tersebut
melakukan "kekerasan yang sangat tak terhitung" di seluruh dunia
ketimbang negara lain sambil menyebut pengeboman atom di Jepang; pernyataan
ini memicu kontroveris internasional, meski ia tetap melanjutkan hubungannya
dengan Blair.[267] Tertarik
dengan hubungan Libya-Britania, ia menjenguk Megrahi di penjara Barlinnie dan tidak menerima perlakuan
terhadapnya; ia menyebut perlakuan tersebut "siksaan psikologis."[268]
pada bulan
Juni 2004, pada usia 85 tahun dan kesehatan yang memburuk, Mandela mengumumkan
bahwa ia "pensiun dari masa pensiun" dan menarik diri dari kehidupan
publik seraya mengatakan "Jangan panggil aku, aku yang akan
memanggilmu."[269] Meski terus
bertemu teman dekat dan keluarga, Foundation terus menolak undangan agar
Mandela tampil di acara-acara publik dan menolak sebagian besar permintaan
wawancara.[270] Ia tetap
terlibat dalam urusan internasional dan mendorong Presiden Zimbabwe Robert
Mugabe
mengundurkan diri karena meningkatnya pelanggaran hak asasi manusia di negara
itu. Setelah terbukti tidak efektif, ia berbicara lantang menentang Mugabe pada
tahun 2007, memintanya turun "dengan penuh rasa hormat dan martabat."[271] Tahun itu,
Mandela, Machel, dan Desmond Tutu mengumpulkan para pemimpin dunia di
Johannesburg untuk menyumbangkan pemikiran dan kepemimpinan independen mereka
untuk menyelesaikan sejumlah masalah tersulit di dunia. Mandela mengumumkan
pembentukan grup barunya, The Elders, dalam
sebuah pidato yang disampaikan pada ulang tahun ke-89.[272]
Ulang tahun
Mandela ke-90 dirayakan di seluruh Afrika Selatan pada 18 Juli 2008. Pesta
utamanya diadakan di Qunu[273] dan konser penghormatan kepadanya
diselenggarakan di Hyde Park, London.[274] Dalam
pidato acara tersebut, Mandela meminta semua orang kaya membantu orang miskin
di seluruh dunia.[273] Sepanjang
masa pemerintahan Mbeki, Mandela terus mendukung ANC, meski biasanya
dibayang-bayangi Mbeki di setiap acara publik yang dihadiri keduanya. Mandela
lebih mudah bersosialisasi dengan pengganti Mbeki Jacob Zuma, walaupun
Nelson Mandela Foundation kecewa karena cucunya, Kepala Suku Mandla Mandela,
menerbangkannya ke Eastern Cape untuk menghadiri rapat umum pro-Zuma di tengah
badai pada tahun 2009.[275]
Sejak 2004,
Mandela berhasil berkampanye agar Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia
FIFA 2010 seraya menyatakan bahwa di sana "ada hadiah yang lebih baik bagi kita
pada tahun" peringatan satu dasawarsa sejak jatuhnya apartheid. Meski
tetap tertutup sepanjang acara, Mandela untuk pertama kalinya tampil pada
upacara penutupan dan mendapat "sambutan yang menggembirakan hari".[276]
Bulan
Februari 2011, ia sempat diinapkan di rumah sakit akibat infeksi pernapasan[277] sebelum
diinapkan kembali akibat infeksi paru-paru dan pengangkatan batu empedu pada
Desember 2012.[278] Setelah
prosedur medis berhasil pada awal Maret 2013,[279] infeksi
paru-parunya kambuh kembali dan ia dilarikan ke rumah sakit di Pretoria.[280]
Pada 8 Juni
2013, infeksi paru-parunya memburuk dan ia dilarikan kembali ke rumah sakit
Pretoria dalam keadaan serius.[281] Setelah
empat hari, dilaporkan bahwa ia stabil dan berada dalam "kondisi serius
namun stabil".[282] Dalam
perjalanan ke rumah sakit, ambulansnya mogok dan
terjebak di pinggir jalan selama 40 menit; pemerintah Afrika Selatan dikritik
atas insiden tersebut setelah mengonfirmasi laporannya beberapa minggu
kemudian, tetapi Presiden Jacob Zuma melawan balik bahwa "Ada tujuh dokter
di konvoi tersebut yang memegang kendali penuh atas situasi waktu itu. Ia
mendapatkan perawatan medis dari para ahli."[283]
Pada tanggal
22 Juni 2013, CBS News menyatakan bahwa ia belum membuka
mata berhari-hari dan tidak responsif, dan keluarganya membahas betapa banyak intervensi
medis yang harus diberikan.[284] Tanggal 23
Juni 2013, Presiden Jacob Zuma merilis pernyataan bahwa kondisi Mandela semakin
"kritis".[285][286][287] Zuma,
ditemani Wakil Presiden ANC, Cyril Ramaphosa, bertemu istri Mandela Graça Machel
di rumah sakit di Pretoria dan membahas kondisinya.[288] Tanggal 25
Juni, Uskup Agung Cape Town Thabo Makgoba menjenguk Mandela di rumah sakit
dan berdoa bersama Graça Machel Mandela "pada waktu sulit untuk menyaksikan
dan menunggu".[289] Keesokan
harinya, Zuma menjenguk Mandela dan membatalkan kunjungan esok harinya ke Mozambik.[290] Kerabat
Mandela memberitahu The Daily
Telegraph bahwa ia memakai mesin pendukung hidup.[291]
Di seluruh
dunia, Mandela terlihat seperti "otoritas moral' yang memiliki
"kepedulian terhadap kebenaran" yang besar.[292] Dianggap
ramah, Mandela tampak "santai" ketika berbicara dengan orang lain,
termasuk para saingannya.[293] Meski
sering berteman dengan miliuner dan tamu penting, ia menikmati berbicara dengan
staf-staf mereka saat menjalankan tugas resmi.[294] Di
kehidupan akhirnya, ia dikenal mencari hal terbaik dari setiap orang, bahkan
mempertahankan saingan politiknya sebagai sekutunya; beberapa orang
menganggapnya terlalu mempercayai orang lain.[295] Ia terkenal
karena keras kepala dan kesetiaannya,[296] dan
memiliki "temperamen panas" yang dapat meledak menjadi amarah dalam
situasi tertentu, serta "murung dan gundah" ketika menjauhi mata
publik.[297] Ia juga
memiliki rasa humor dan sering jahil.[298] Dalai Lama ke-14
adalah teman lama mantan presiden Nelson Mandela.
Sangat sadar
akan citranya, sepanjang hidupnya Mandela memakai pakaian-pakaian berkualitas
tinggi, menjadikan dirinya "bergaya kerajaan" karena terpengaruh masa
kecilnya di rumah kerajaan Thembu, dan selama masa pemerintahannay sering
dibanding-bandingkan dengan raja
konstitusional.[299] Dianggap
sebagai "master citra dan penampilan", ia sangat pintar menampilkan
dirinya saat difoto pers dan mulutnya sering mengeluarkan suara gigit.[300]
Unjuk rasa
"Free Mandela" di Berlin, 1986
Mandela
adalah seorang nasionalis Afrika, posisi ideologi yang ia pegang
terus sejak bergabung ANC,[301] sekaligus
menjadi "demokrat dan sosialis".[302] Walaupun
menampilkan diri dengan gaya otokratik dalam beberapa pidatonya, Mandela adalah
penganut demokrasi dan akan mematuhi keputusan mayoritas bahkan jika ia sangat
tidak setuju.[303] Ia memegang
keyakinan bahwa "keterlibatan, pertanggungjawaban, dan kebebasan
berbicara" adalah dasar-dasar demokrasi,[304] dan
didorong oleh kepercayaan akan hak alami dan hak asasi manusia.[305]
Sebagai
seorang sosialis
demokratik, Mandela "secara terbuka menentang kapitalisme, kepemilikan lahan
swasta, dan kekuatan pihak berkantong tebal".[306] Dipengaruhi
Marxisme, selama
revolusi Mandela menyerukan sosialisme ilmiah,[307] meski ia
menolak dicap komunis pada Pengadilan Pengkhianatan.[308] Biografer
David James Smith menduga ini tidak benar dan menyatakan bahwa Mandela "menganut
komunisme dan komunis" pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, walaupun ia
adlaah "sesama petualang" alih-alih anggota partai.[309] Di Piagam
Kebebasan 1955, yang penyusunannya dibantu Mandela, isinya menuntut
nasionalisasi bank, tambang emas, dan tanah, percaya hal ini diperlukan untuk
menjamin distribusi kekayaan secara adil.[310] Meski punya
kepercayaan seperti ini, Mandela tidak menasionalisasikan apapun selama masa
pemerintahannya, khawatir ia akan menakuti investor asing. Keputusan ini
separuh dipengaruhi jatuhnya negara sosialis di Uni Soviet dan Blok Timur
sepanjang awal 1990-an.[311]
Mandela
telah menikah tiga kali, menjadi ayah dari enam anak, memiliki 17 cucu per
April 2013,[312] dan cicit
yang terus bertambah.[313] Dianggap
tidak demonstratif secara fisik dengan anak-anaknya, Mandela bisa saja bersikap
keras dan menuntut terhadap mereka, namun justru lebih sayang kepada
cucu-cucunya.[314]
Pernikahan
pertama Mandela adalah dengan Evelyn Ntoko Mase, yang berasal dari Transkei dan
bertemu di Johannesburg sebelum menikah pada bulan Oktober 1944.[54] Keduanya
berpisah tahun 1957 setelah 13 tahun menikah, lalu bercerai akibat Mandela
dituduh sering selingkuh dan tidak berada di rumah, setia dengan perjuangan
revolusi, dan fakta bahwa Evelyn adalah anggota Saksi-Saksi
Yehuwa, agama yang
mewajibkan netralitas politik.[86] Keduanya
dikaruniai dua putra, Madiba "Thembi" Thembekile (1946–1969) dan Makgatho
Mandela (1950–2005), dan dua putri, keduanya bernama Makaziwe Mandela (known as Maki; lahir 1947 dan
1953). Putri pertama mereka meninggal pada usia sembilan bulan dan mereka
memberi nama putri keduanya sama seperti itu sebagai bentuk penghormatan.[315] Mase
meninggal dunia tahun 2004 dan Mandela menghadiri pemakamannya.[316] Putra
Makgatho, Mandla Mandela, menjadi kepala dewan suku Mvezo pada tahun
2007.[317]
Istri kedua
Mandela, Winnie Madikizela-Mandela, juga berasal dari Transkei meski mereka
juga bertemu di Johannesburg, tempat Winnie menjadi pekerja sosial berkulit
hitam pertama di kota itu.[318] Mereka
dikaruniai dua putri, Zenani (Zeni), lahir 4 Februari 1958, dan Zindziswa
(Zindzi) Mandela-Hlongwane, lahir 1960.[318] Zindzi
hanya berusia 18 bulan ketika ayahnya dikirim ke Pulau Robben. Winnie kelak
merasa sangat hancur akibat percekcokan keluarga yang menyerupai kekacauan
politik negara ini; saat suaminya menjalani hukuman penjara seumur hidup di
Pulau Robben, ayahnya menjadi menteri pertanian di Transkei.[318] Pernikahan
ini berakhir dengan perpisahan (April 1992) dan perceraian (Maret 1996),
diperparah oleh pengasingan politik.[319] Mandela
masih dipenjara ketika putrinya, Zenani, menikah tahun 1973 dengan Pangeran
Thumbumuzi Dlamini, saudara Raja Mswati III dari Swaziland[320] dan Ratu Mantfombi dari suku
Zulu.[321] Meski ia
punya ingatan jelas tentang ayahnya, sejak usia empat sampai enam belas tahun,
otoritas Afrika Selatan melarang ia menjenguknya.[322] Bulan Juli
2012, Zenani ditunjuk sebagai duta besar untuk Argentina dan menjadi anak
Mandela pertama yang memasuki kehidupan publik.[323]
Mandela
menikah kembali pada ulang tahunnya ke-80 tahun 1998 dengan Graça Machel (née
Simbine), janda Samora Machel, mantan
presiden Mozambik dan sekutu ANC yang tewas dalam kecelakaan pesawat 12 tahun
sebelumnya.[324]
Mandela
Family Museum, Soweto
Di South
Africa, Mandela secara luas dianggap sebagai "bapak bangsa",[327] dan
"bapak pendiri demokrasi",[328] dipandang
sebagai "pembebas bangsa, sang penyelamat, Washington dan Lincoln digabung
menjadi satu".[329] Pada tahun
2004, Johannesburg memberikan Mandela kunci kota,[330] dan pusat
perbelanjaan Sandton Square diganti namanya menjadi Nelson Mandela Square setelah sebuah patung Mandela
dipasang di sana.[331] Tahun 2008,
patung Mandela dipasang di Groot Drakenstein Correctional Centre, sebelumnya
Penjara Victor Verster, dekat Cape Town, di titik tempat Mandela dibebaskan
dari penjara.[332]
Ia juga
mendapat banyak pujian dari dunia internasional. Pada tahun 1993, ia menerima
Hadiah Perdamaian Nobel bersama de Klerk.[333] Bulan
November 2009, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan
ulang tahun Mandela, 18 Juli, sebagai "Hari Mandela", yang menandakan
kontribusinya untuk perjuangan anti-apartheid. Peringatan ini meminta semua
orang menyumbangkan 67 menit waktunya untuk menolong orang lain. Angka tersebut
diambil dari 67 tahun masa keterlibatan Mandela dalam pergerakan
anti-apartheid.[334]
Selain US Presidential Medal of Freedom,[335] dan Order of
Canada,[336] ia
merupakan orang hidup pertama yang mendapatkan status warga negara kehormatan Kanada.[337] Setelah
menjadi penerima terakhir Hadiah
Perdamaian Lenin dari Uni Soviet,[338] pada tahun
1990 ia menerima Bharat Ratna Award dari pemerintah India,[339] dan tahun
1992 ia menerima Nishan-e-Pakistan dari Pakistan.[340] Pada tahun
1992, ia dianugerahkan Atatürk Peace Award oleh Turki. Ia menolaknya karena
waktu itu Turki melakukan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia,[341] namun
akhirnya diterima Mandela tahun 1999.[338] Elizabeth
II menganugerahkan Mandela Bailiff Grand Cross of the Order of St. John dan Order of
Merit.[342]
Banyak artis
yang mempersembahkan lagunya kepada Mandela. Salah satu lagu yang paling
terkenal adalah "Free Nelson Mandela" dari The Special AKA tahun 1983, yang juga dinyanyikan Elvis
Costello dan sama-sama terkenal. Stevie Wonder
mendedikasikan Piala Oscar 1985 untuk
lagu "I Just Called to Say I Love You"-nya
kepada Mandela, sampai-sampai musiknya dilarang beredar oleh South African Broadcasting Corporation.[343] Tahun 1985,
album Youssou N'Dour Nelson Mandela adalah rilis
pertama artis Senegal ini di Amerika Serikat. Artis-artis lain yang merilis
lagu atau video sebagai penghormatan untuk Mandela meliputi Johnny Clegg,[344] Hugh Masekela,[345] Brenda Fassie,[346] Beyond,[347] Nickelback,[348] Raffi,[349] dan Ampie du Preez dan AB de Villiers.[350]
Mandela
telah ditampilkan di film dan televisi beberapa kali. Film tahun 1997, Mandela and de Klerk, dibintangi
Sidney
Poitier yang berperan sebagai Mandela,[351] sedangkan Dennis Haysbert memerankannya di Goodbye Bafana (2007).[352] Dalam film
televisi BBC tahun 2009, Mrs Mandela, Nelson Mandela diperankan oleh David Harewood,[353] dan Morgan
Freeman memerankannya di Invictus (2009).
No comments:
Post a Comment